<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>makaroon99</title>
    <link>https://makaroon99.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Thu, 16 Jul 2026 21:13:48 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>After 7 Days</title>
      <link>https://makaroon99.writeas.com/after-7-days?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  TW // Mention of death&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Azkia dan Rey sudah sampai di kediaman Naufal. Rumah yang ditempati sahabatnya itu bersama mendiang istrinya setelah menikah.&#xA;&#xA;Ia bertemu dengan Papi Naufal, yang kebetulan baru dari luar membeli bahan makanan untuk makan malam.&#xA;&#xA;Baby Galen menangis begitu masuk ke dalam, matanya terus menatap ke langit-langit, tangannya juga tampak menggapai ke atas seakan di sana ada seseorang yang ingin menggendongnya.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Aku ke Naufal dulu, ya?&#34; izin Azkia pada sang suami. Rey.&#xA;&#xA;&#34;Iya, sayang.&#34; Kata Rey sambil menenangkan Baby Galen yang masih menangis.&#xA;&#xA;Akhirnya Azkia melangkah masuk ke dalam kamar Naufal yang tidak terkunci itu.&#xA;&#xA;Di dalam kamar, Azkia melihat Naufal duduk di lantai bersandar pada dipan kasur. Kedua kakinya diselonjorkan, sementara di paha terdapat foto pernikahannya dengan Aruna.&#xA;&#xA;&#34;Naufal?&#34; panggil Azkia pelan.&#xA;&#xA;Yang dipanggil hanya menoleh sekejap, kemudian kembali menatap kosong lantai di hadapannya. Tapi Azkia tetap menghampiri Naufal walau responnya seperti itu.&#xA;&#xA;Ia itu duduk di sebelah Naufal, menghadap laki-laki itu. Kedua kakinya bersila, matanya menatap wajah lusuh sang sahabat yang sudah mirip mayat hidup. Pucat, kering, mata cekung. Benar-benar tidak ada gairah hidup.&#xA;&#xA;&#34;Fal, mau sampai kapan? Udah seminggu lo kayak gini.&#34; Azkia membuka percakapan, yang tentu masih belum direspon Naufal.&#xA;&#xA;&#34;Baby Galen ada di depan sama Rey dan Papi. Dia nangis terus, kayaknya kangen sama Ayahnya.&#34; Kata Azkia lagi, namun Naufal masih diam.&#xA;&#xA;&#34;Naufal, lo tau ngga kalau sebelumnya gue ngga pernah seemosi ini? Engga, maksud gue… selain kehilangan janin gue dan waktu itu Aruna yang nenangin gue. Sekarang, emosi gue lagi setinggi itu karena ngeliat lo, Fal.&#34; Nada bicara Azkia mulai berubah. Marah namun ditahan.&#xA;&#xA;&#34;Naufal dengerin gue! Liat gue!&#34; Kali ini ia menarik kedua bahu Naufal agar keduanya berhadapan. Naufal seketika menatapnya walau dengan wajah datar dan tatapan kosong.&#xA;&#xA;&#34;Apa sih gunanya lo diem kayak gini, Fal? Ngurung diri, ngga mau makan, minum, cuma diem kayak orang bisu. APA GUNANYA?&#34; bentak Azkia.&#xA;&#xA;&#34;...&#34; Naufal hanya diam.&#xA;&#xA;&#34;Lo pikir dengan kayak gini, Aruna bakal hidup lagi? Engga, Naufal! Aruna bakal sedih ngeliat suaminya terpuruk kayak gini. Aruna bakal sedih ngeliat anaknya malah diurus sama orang lain bukan Ayahnya sendiri. Aruna bakal sedih dan ngga akan tenang sebab kepergiannya justru membuat orang tercintanya seperti orang yang hidup segan mati tak mau kayak lo gini.&#34;&#xA;&#xA;Jujur Azkia tidak bisa menahan tangisnya. Bukan marah karena Naufal menelantarkan anaknya, tapi karena kondisi Naufal yang begitu terpuruk. Dia sangat tahu bagaimana sedihnya sahabatnya itu karena ditinggal sosok yang paling dia cinta.&#xA;&#xA;&#34;Naufal, please, jangan semakin nyakitin diri lo dengan cara kayak gini. Hidup lo masih panjang, Fal. Ada Baby Galen yang harus lo urus. Dia adalah harta berharganya Aruna.&#34;&#xA;&#xA;&#34;...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo bayangin sesedih apa Aruna di sana sekarang karena sikap lo yang seperti ini. Tapi bayangin juga betapa bahagianya dia kalau lo bisa kembali seperti saat ada Aruna di sini. Ngga ada Aruna, tapi ada Baby Galen, Naufal. Permata kalian.&#34;&#xA;&#xA;Dapat Azkia lihat kalau air mata Naufal menetes. Matanya kembali hidup sambil menatapnya. Mata dan hidungnya merah seakan darah yang sempat terhenti kembali mengalir dalam tubuhnya.&#xA;&#xA;&#34;K-Kia…?&#34;&#xA;&#xA;Azkia mengusap kening Naufal asal sebelum menghapus air mata di pipi laki-laki itu. Dia mengangguk sambil menahan tangisnya, &#34;Iya. Ini gue, Azkia, Naufal.&#34;&#xA;&#xA;&#34;A-Aruna… A-Aruna pergi, Kia.&#34;&#xA;&#xA;Entah dorongan dari mana, Azkia memeluk tubuh kurus itu. &#34;Aruna pergi, hanya raganya. Tapi jiwanya ada di sini, Naufal. Dia ngga ke mana-mana.&#34;&#xA;&#xA;Kemudian yang dapat Azkia dengar hanya suara isak tangis Naufal yang begitu memilukan. Tidak apa-apa, batin Azkia, ia membiarkan Naufal menangis sepuasnya dalam pelukannya.&#xA;&#xA;&#34;Aruna pergi, Kia. Dia ninggalin gue sama Galen.&#34; Ucap Naufal disela isak tangisnya.&#xA;&#xA;Azkia mengusap punggung Naufal, &#34;Hanya raganya, Naufal.&#34; Ia kembali mengingatkan.&#xA;&#xA;&#34;I can&#39;t live without her,&#34; lirih Naufal.&#xA;&#xA;Dengan cepat Azkia memberi jarak antara dirinya dengan Naufal. Ia menggeleng untuk membantah ucapan Naufal barusan.&#xA;&#xA;&#34;No, you can do it. Buktinya lo masih ada di sini setelah tujuh hari dia pergi. Do not ever to say that again, Naufal. Di sini ada Galen. Anak lo dengan Aruna. Aruna ninggalin lo bersama Galen, itu artinya dia mau lo bisa terus sama dia. Inget, Naufal, seberapa besar Aruna memberikan lo kepercayaan. Tolong jangan kecewakan dia. Lo harus bertahan apapun keadaannya, dengan atau tanpa Aruna, bersama Galen.&#34;&#xA;&#xA;Naufal terdiam untuk beberapa saat, menunduk dalam sebelum merespon ucapan Azkia.&#xA;&#xA;&#34;Can I?&#34;&#xA;&#xA;Dengan mantap Azkia mengangguk. &#34;Lo punya gue, Rey, Sadam, Rhea, Javier, Reina, juga Papi. Kami semua akan ada untuk lo, Naufal.&#34;&#xA;&#xA;Sekali lagi Naufal menitihkan air mata, lalu ia memeluk Azkia. Setidaknya, satu hal itu yang saat ini dapat ia lakukan agar dirinya menjadi lebih tenang.&#xA;&#xA;  &#34;Aruna, maafin aku. Galen, maafin Ayah.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;@makaroon99]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>TW // Mention of death</p></blockquote>

<hr/>

<p>Azkia dan Rey sudah sampai di kediaman Naufal. Rumah yang ditempati sahabatnya itu bersama mendiang istrinya setelah menikah.</p>

<p>Ia bertemu dengan Papi Naufal, yang kebetulan baru dari luar membeli bahan makanan untuk makan malam.</p>

<p>Baby Galen menangis begitu masuk ke dalam, matanya terus menatap ke langit-langit, tangannya juga tampak menggapai ke atas seakan di sana ada seseorang yang ingin menggendongnya.</p>



<p>“Aku ke Naufal dulu, ya?” izin Azkia pada sang suami. Rey.</p>

<p>“Iya, sayang.” Kata Rey sambil menenangkan Baby Galen yang masih menangis.</p>

<p>Akhirnya Azkia melangkah masuk ke dalam kamar Naufal yang tidak terkunci itu.</p>

<p>Di dalam kamar, Azkia melihat Naufal duduk di lantai bersandar pada dipan kasur. Kedua kakinya diselonjorkan, sementara di paha terdapat foto pernikahannya dengan Aruna.</p>

<p>“Naufal?” panggil Azkia pelan.</p>

<p>Yang dipanggil hanya menoleh sekejap, kemudian kembali menatap kosong lantai di hadapannya. Tapi Azkia tetap menghampiri Naufal walau responnya seperti itu.</p>

<p>Ia itu duduk di sebelah Naufal, menghadap laki-laki itu. Kedua kakinya bersila, matanya menatap wajah lusuh sang sahabat yang sudah mirip mayat hidup. Pucat, kering, mata cekung. Benar-benar tidak ada gairah hidup.</p>

<p>“Fal, mau sampai kapan? Udah seminggu lo kayak gini.” Azkia membuka percakapan, yang tentu masih belum direspon Naufal.</p>

<p>“Baby Galen ada di depan sama Rey dan Papi. Dia nangis terus, kayaknya kangen sama Ayahnya.” Kata Azkia lagi, namun Naufal masih diam.</p>

<p>“Naufal, lo tau ngga kalau sebelumnya gue ngga pernah seemosi ini? Engga, maksud gue… selain kehilangan janin gue dan waktu itu Aruna yang nenangin gue. Sekarang, emosi gue lagi setinggi itu karena ngeliat lo, Fal.” Nada bicara Azkia mulai berubah. Marah namun ditahan.</p>

<p>“Naufal dengerin gue! Liat gue!” Kali ini ia menarik kedua bahu Naufal agar keduanya berhadapan. Naufal seketika menatapnya walau dengan wajah datar dan tatapan kosong.</p>

<p>“Apa sih gunanya lo diem kayak gini, Fal? Ngurung diri, ngga mau makan, minum, cuma diem kayak orang bisu. APA GUNANYA?” bentak Azkia.</p>

<p>”...” Naufal hanya diam.</p>

<p>“Lo pikir dengan kayak gini, Aruna bakal hidup lagi? Engga, Naufal! Aruna bakal sedih ngeliat suaminya terpuruk kayak gini. Aruna bakal sedih ngeliat anaknya malah diurus sama orang lain bukan Ayahnya sendiri. Aruna bakal sedih dan ngga akan tenang sebab kepergiannya justru membuat orang tercintanya seperti orang yang hidup segan mati tak mau kayak lo gini.”</p>

<p>Jujur Azkia tidak bisa menahan tangisnya. Bukan marah karena Naufal menelantarkan anaknya, tapi karena kondisi Naufal yang begitu terpuruk. Dia sangat tahu bagaimana sedihnya sahabatnya itu karena ditinggal sosok yang paling dia cinta.</p>

<p>“Naufal, <em>please</em>, jangan semakin nyakitin diri lo dengan cara kayak gini. Hidup lo masih panjang, Fal. Ada Baby Galen yang harus lo urus. Dia adalah harta berharganya Aruna.”</p>

<p>”...”</p>

<p>“Lo bayangin sesedih apa Aruna di sana sekarang karena sikap lo yang seperti ini. Tapi bayangin juga betapa bahagianya dia kalau lo bisa kembali seperti saat ada Aruna di sini. Ngga ada Aruna, tapi ada Baby Galen, Naufal. Permata kalian.”</p>

<p>Dapat Azkia lihat kalau air mata Naufal menetes. Matanya kembali hidup sambil menatapnya. Mata dan hidungnya merah seakan darah yang sempat terhenti kembali mengalir dalam tubuhnya.</p>

<p>“K-Kia…?”</p>

<p>Azkia mengusap kening Naufal asal sebelum menghapus air mata di pipi laki-laki itu. Dia mengangguk sambil menahan tangisnya, “Iya. Ini gue, Azkia, Naufal.”</p>

<p>“A-Aruna… A-Aruna pergi, Kia.”</p>

<p>Entah dorongan dari mana, Azkia memeluk tubuh kurus itu. “Aruna pergi, hanya raganya. Tapi jiwanya ada di sini, Naufal. Dia ngga ke mana-mana.”</p>

<p>Kemudian yang dapat Azkia dengar hanya suara isak tangis Naufal yang begitu memilukan. Tidak apa-apa, batin Azkia, ia membiarkan Naufal menangis sepuasnya dalam pelukannya.</p>

<p>“Aruna pergi, Kia. Dia ninggalin gue sama Galen.” Ucap Naufal disela isak tangisnya.</p>

<p>Azkia mengusap punggung Naufal, “Hanya raganya, Naufal.” Ia kembali mengingatkan.</p>

<p>“<em>I can&#39;t live without her,</em>” lirih Naufal.</p>

<p>Dengan cepat Azkia memberi jarak antara dirinya dengan Naufal. Ia menggeleng untuk membantah ucapan Naufal barusan.</p>

<p>“<em>No, you can do it</em>. Buktinya lo masih ada di sini setelah tujuh hari dia pergi. <em>Do not ever to say that again</em>, Naufal. Di sini ada Galen. Anak lo dengan Aruna. Aruna ninggalin lo bersama Galen, itu artinya dia mau lo bisa terus sama dia. Inget, Naufal, seberapa besar Aruna memberikan lo kepercayaan. Tolong jangan kecewakan dia. Lo harus bertahan apapun keadaannya, dengan atau tanpa Aruna, bersama Galen.”</p>

<p>Naufal terdiam untuk beberapa saat, menunduk dalam sebelum merespon ucapan Azkia.</p>

<p><em>“Can I?”</em></p>

<p>Dengan mantap Azkia mengangguk. “Lo punya gue, Rey, Sadam, Rhea, Javier, Reina, juga Papi. Kami semua akan ada untuk lo, Naufal.”</p>

<p>Sekali lagi Naufal menitihkan air mata, lalu ia memeluk Azkia. Setidaknya, satu hal itu yang saat ini dapat ia lakukan agar dirinya menjadi lebih tenang.</p>

<blockquote><p>“Aruna, maafin aku. Galen, maafin Ayah.”</p></blockquote>

<hr/>

<p>@makaroon99</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://makaroon99.writeas.com/after-7-days</guid>
      <pubDate>Sat, 18 Mar 2023 18:55:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Day 14</title>
      <link>https://makaroon99.writeas.com/day-14?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  TW // Mention of death&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Laki-laki bertubuh kurus itu masih duduk bersandar di atas ranjang di kamar rawat inapnya. Matanya menatap ke televisi yang menyala, namun tidak dengan pikirannya.&#xA;&#xA;Mama dan Papanya ada di sana, tengah makan siang sambil sesekali berbincang pelan. Azka tidak tuli jika orangtuanya berbincang membawa namanya, tapi ia memilih untuk diam guna menetralkan amarah yang masih melanda.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Hingga selesai dua orang itu makan, Mama menghampirinyaㅡraga Shaka. Sementara Papa pergi keluar.&#xA;&#xA;&#34;Shaka?&#34;&#xA;&#xA;Laki-laki itu menoleh ketika Mama memanggilnya dan menyentuh lengannya lembut, &#34;Hm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Masih pusing, nak?&#34; tanya Mama pelan.&#xA;&#xA;Azka menggeleng, &#34;Engga. Kenapa, Ma?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ke ruangannya Azka, yuk!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tumben?&#34;&#xA;&#xA;Mama menghela napas pelan, &#34;Siapa tau kamu kangen kembaranmu. Kita jenguk, ya?&#34;&#xA;&#xA;Azka pun mengangguk. Tidak enak juga menolak, toh yang dilihat juga bukan orang asing. Ya walau terkadang ia sedih dan merinding sendiri melihat raganya terbaring lemah seperti itu. Rasanya, seperti sedang diambang kematian karena jiwa dan raga yang terpisah.&#xA;&#xA;Kursi roda yang didudukinya didorong oleh Mama ke ruangan di mana raganya berada. Di sana sudah ada Papa rupanya yang tengah menyeka lengan Azka.&#xA;&#xA;Rasa sedih menusuk hatinya. Selalu seperti itu setiap melihat raganya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Azka udah tidur lama sekali, Shaka.&#34; Kata Papa, &#34;Dia jauh lebih hebat dan kuat dibanding kamu dulu.&#34;&#xA;&#xA;Azka mengeryit, baru kali ini ia mendengar dipuji oleh Papanya. Tapi terdengar aneh juga.&#xA;&#xA;&#34;Tapi kalau seperti ini terus, kasihan dia. Dokter bilang, harapan Azka bangun hanya sedikit, Shaka.&#34; Kata Papa lagi.&#xA;&#xA;&#34;Maksud Papa apa?&#34; Azka akhirnya buka suara.&#xA;&#xA;Mama berjalan dan bersimpuh di sampingnyaㅡraga Shaka, &#34;Kita ikhlaskan Azka, ya?&#34;&#xA;&#xA;Oh, rupanya ini yang ingin dibicarakan. Jelas mendengar itu, amarah Azka yang belum stabil, kembali naik.&#xA;&#xA;&#34;Mama sama Papa ngga sayang sama Azka, ya?&#34; pertanyaan itu keluar dari mulut milik Shaka yang dikendalikan Azka.&#xA;&#xA;&#34;Kami sayang sama Azka, nak. Makanya kami mengajak kamu untuk mengikhlaskannya. Azka terlalu lama seperti ini, kasihan dia.&#34; Kata Papa.&#xA;&#xA;Azka tersenyum miris, &#34;Setelah belasan tahun kalian memperlakukan Azka seperti anak tiri, baru bilang sayang sama Azka? Sekarang Azka seperti ini, justru harus diikhlaskan? Papa sama Mama apa ngga tau kalau Azka lagi berjuang untuk kembali? Walau Azka tau dia ngga akan pernah dapat perhatian dan kasih sayang seperti yang didapatkan Shaka!&#xA;&#xA;Salahnya Azka itu apa sih, Ma? Pa? Anak kalian itu ada dua! Bukan cuma Shaka! Oke, kalau alasannya kalian seperti ini karena Shaka lemah dan sakit, kalian mau Shaka selalu baik-baik aja, tapi engga dengan membedakan perlakuan kalian pada Azka. Aku sakit hati, Pa! Ma!&#34; Tangis Azka pecah, keluar bersama emosi yang membuncah.&#xA;&#xA;&#34;Sh-Shaka jangan salah paham dulu, nak. Kami tau kalau kami tidak seharusnya seperti ini, tapi kami belum bisa. Azka sehat, dia bisa melakukan banyak hal sendiri, tapi tidak dengan kamㅡ&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jadi maksud Mama Shaka ngga mampu?? Dan harus jadi lemah dulu kalau mau kalian sayang?? SEPERTI AZKA YANG SEKARANG, BEGITU?? IYA, MA??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Shaka!! Jangan membentak Mamamu!!&#34; Tegur sang Papa menahan sang istri yang terkejut ketika dibentak anak kesayangannya.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa kamu kasar seperti ini? Jaga emosi kamu, Shaka. Kendalikan!&#34; Kata Papa lagi.&#xA;&#xA;&#34;Lalu apa pernah Papa dan Mama kendalikan emosi di depan Azka? Kalian bisa? Engga!&#34; Balas Shaka.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa jadi membahas Azka terus sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Papa, udah!&#34; Kini Mama menegur sang suami, &#34;Shaka….&#34; Tangan wanita itu menghapus air mata di wajah milik Shaka, namun Azka yang merasakan sengatan itu. Lembut.&#xA;&#xA;&#34;Mama bahkan ngga pernah ngusap wajah Azka selembut ini,&#34; ucapnya pelan. Air matanya menetes lagi.&#xA;&#xA;&#34;Shaka…&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalau lemah bisa membuat Azka dapat banyak usapan lembut Mama, Azka mau jadi seperti Shaka aja.&#34; Azka seakan kehilangan keinginannya yang tadi. Jadi Azka sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Shaka, kamu bicara apa, hm?&#34; Mama sedikit panik, lalu memeluk sang anak lembut sambil mengusap punggungnya, &#34;Maafin Mama, sayang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;K-kalau lemah bisa membuat Azka dipeluk Mama, Azka mau. Bahkan kalau kematian bisa membuat Mama sama Papa peluk Azka, cium Azka, Azka ngga apa-apa.&#34; Isak Azka.&#xA;&#xA;Mama mengeryit, pun dengan Papa. Kemudian Azka mendengar Mama dan Papa berbicara, namun sayang terlalu bising sehingga ia tidak bisa mendengarnya begitu jelas.&#xA;&#xA;Hingga kemudian Azka merasakan telinganya berdengung. Dengungan itu begitu kencang sehingga membuat detak jantungnya terasa berdetak sangat cepat, serta kepala seperti diremat kuat.&#xA;&#xA;Sesaat kemudian Azka merasakan semuanya sunyi. Tidak ada suara apapun. Bahkan hanya putih yang dapat ia lihat di depan matanya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;@makaroo99]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>TW // Mention of death</p></blockquote>

<hr/>

<p>Laki-laki bertubuh kurus itu masih duduk bersandar di atas ranjang di kamar rawat inapnya. Matanya menatap ke televisi yang menyala, namun tidak dengan pikirannya.</p>

<p>Mama dan Papanya ada di sana, tengah makan siang sambil sesekali berbincang pelan. Azka tidak tuli jika orangtuanya berbincang membawa namanya, tapi ia memilih untuk diam guna menetralkan amarah yang masih melanda.</p>



<p>Hingga selesai dua orang itu makan, Mama menghampirinyaㅡraga Shaka. Sementara Papa pergi keluar.</p>

<p>“Shaka?”</p>

<p>Laki-laki itu menoleh ketika Mama memanggilnya dan menyentuh lengannya lembut, “Hm?”</p>

<p>“Masih pusing, nak?” tanya Mama pelan.</p>

<p>Azka menggeleng, “Engga. Kenapa, Ma?”</p>

<p>“Ke ruangannya Azka, yuk!”</p>

<p>“Tumben?”</p>

<p>Mama menghela napas pelan, “Siapa tau kamu kangen kembaranmu. Kita jenguk, ya?”</p>

<p>Azka pun mengangguk. Tidak enak juga menolak, toh yang dilihat juga bukan orang asing. Ya walau terkadang ia sedih dan merinding sendiri melihat raganya terbaring lemah seperti itu. Rasanya, seperti sedang diambang kematian karena jiwa dan raga yang terpisah.</p>

<p>Kursi roda yang didudukinya didorong oleh Mama ke ruangan di mana raganya berada. Di sana sudah ada Papa rupanya yang tengah menyeka lengan Azka.</p>

<p>Rasa sedih menusuk hatinya. Selalu seperti itu setiap melihat raganya sendiri.</p>

<p>“Azka udah tidur lama sekali, Shaka.” Kata Papa, “Dia jauh lebih hebat dan kuat dibanding kamu dulu.”</p>

<p>Azka mengeryit, baru kali ini ia mendengar dipuji oleh Papanya. Tapi terdengar aneh juga.</p>

<p>“Tapi kalau seperti ini terus, kasihan dia. Dokter bilang, harapan Azka bangun hanya sedikit, Shaka.” Kata Papa lagi.</p>

<p>“Maksud Papa apa?” Azka akhirnya buka suara.</p>

<p>Mama berjalan dan bersimpuh di sampingnyaㅡraga Shaka, “Kita ikhlaskan Azka, ya?”</p>

<p>Oh, rupanya ini yang ingin dibicarakan. Jelas mendengar itu, amarah Azka yang belum stabil, kembali naik.</p>

<p>“Mama sama Papa ngga sayang sama Azka, ya?” pertanyaan itu keluar dari mulut milik Shaka yang dikendalikan Azka.</p>

<p>“Kami sayang sama Azka, nak. Makanya kami mengajak kamu untuk mengikhlaskannya. Azka terlalu lama seperti ini, kasihan dia.” Kata Papa.</p>

<p>Azka tersenyum miris, “Setelah belasan tahun kalian memperlakukan Azka seperti anak tiri, baru bilang sayang sama Azka? Sekarang Azka seperti ini, justru harus diikhlaskan? Papa sama Mama apa ngga tau kalau Azka lagi berjuang untuk kembali? Walau Azka tau dia ngga akan pernah dapat perhatian dan kasih sayang seperti yang didapatkan Shaka!</p>

<p>Salahnya Azka itu apa sih, Ma? Pa? Anak kalian itu ada dua! Bukan cuma Shaka! Oke, kalau alasannya kalian seperti ini karena Shaka lemah dan sakit, kalian mau Shaka selalu baik-baik aja, tapi engga dengan membedakan perlakuan kalian pada Azka. Aku sakit hati, Pa! Ma!” Tangis Azka pecah, keluar bersama emosi yang membuncah.</p>

<p>“Sh-Shaka jangan salah paham dulu, nak. Kami tau kalau kami tidak seharusnya seperti ini, tapi kami belum bisa. Azka sehat, dia bisa melakukan banyak hal sendiri, tapi tidak dengan kamㅡ”</p>

<p>“Jadi maksud Mama Shaka ngga mampu?? Dan harus jadi lemah dulu kalau mau kalian sayang?? SEPERTI AZKA YANG SEKARANG, BEGITU?? IYA, MA??”</p>

<p>“Shaka!! Jangan membentak Mamamu!!” Tegur sang Papa menahan sang istri yang terkejut ketika dibentak anak kesayangannya.</p>

<p>“Kenapa kamu kasar seperti ini? Jaga emosi kamu, Shaka. Kendalikan!” Kata Papa lagi.</p>

<p>“Lalu apa pernah Papa dan Mama kendalikan emosi di depan Azka? Kalian bisa? Engga!” Balas Shaka.</p>

<p>“Kenapa jadi membahas Azka terus sih?”</p>

<p>“Papa, udah!” Kini Mama menegur sang suami, “Shaka….” Tangan wanita itu menghapus air mata di wajah milik Shaka, namun Azka yang merasakan sengatan itu. Lembut.</p>

<p>“Mama bahkan ngga pernah ngusap wajah Azka selembut ini,” ucapnya pelan. Air matanya menetes lagi.</p>

<p>“Shaka…”</p>

<p>“Kalau lemah bisa membuat Azka dapat banyak usapan lembut Mama, Azka mau jadi seperti Shaka aja.” Azka seakan kehilangan keinginannya yang tadi. Jadi Azka sendiri.</p>

<p>“Shaka, kamu bicara apa, hm?” Mama sedikit panik, lalu memeluk sang anak lembut sambil mengusap punggungnya, “Maafin Mama, sayang.”</p>

<p>“K-kalau lemah bisa membuat Azka dipeluk Mama, Azka mau. Bahkan kalau kematian bisa membuat Mama sama Papa peluk Azka, cium Azka, Azka ngga apa-apa.” Isak Azka.</p>

<p>Mama mengeryit, pun dengan Papa. Kemudian Azka mendengar Mama dan Papa berbicara, namun sayang terlalu bising sehingga ia tidak bisa mendengarnya begitu jelas.</p>

<p>Hingga kemudian Azka merasakan telinganya berdengung. Dengungan itu begitu kencang sehingga membuat detak jantungnya terasa berdetak sangat cepat, serta kepala seperti diremat kuat.</p>

<p>Sesaat kemudian Azka merasakan semuanya sunyi. Tidak ada suara apapun. Bahkan hanya putih yang dapat ia lihat di depan matanya.</p>

<hr/>

<p>@makaroo99</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://makaroon99.writeas.com/day-14</guid>
      <pubDate>Sat, 14 May 2022 04:39:36 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sore Itu</title>
      <link>https://makaroon99.writeas.com/sore-itu-hrc6?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Radiv itu anak tunggal, sama dengan Thalia. Mereka adalah sepupu dekat, di mana Ayah Thalia merupakan adik dari Mama Radiv.&#xA;&#xA;Waktu kecil, mereka tinggal di rumah yang sama, diurus oleh kakek-neneknya. Sampai Thalia usia 10 tahun dan Radiv 12 tahun, mereka berpisah rumah.&#xA;&#xA;Walau demikian, hubungan keduanya masih sangat dekat. Dan dibandingkan dengan saudara sepupu, mereka terlihat seperti saudara kandung.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Sifat protektif Radiv kecil terhadap Thalia terbawa sampai sekarang. Semua yang Thalia mau, pasti ia turuti. Apa yang membuat Thalia sedih bahkan menangis, pasti ia marahi, termasuk Mama dan Ayah Thalia sendiri.&#xA;&#xA;Jadi ingat waktu Thalia menangis dan mengadu pada Radiv karena harus masuk kuliah jurusan Bisnis, Radiv marah pada OmnyaㅡAyah Thaliaㅡ dan sempat membawa Thalia tidur di rumahnya selama 3 hari, alias membantu Thalia kabur dari rumah.&#xA;&#xA;Radiv sesayang itu pada Thalia. Makanya, sesibuk apapun Radiv, akan mengusahakan meluangkan waktunya untuk Thalia.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Abis ini mau ke mana?&#34; tanya Radiv ketika melihat makanan Thalia tinggal sedikit.&#xA;&#xA;&#34;Hmm, nonton?&#34;&#xA;&#xA;Radiv mengangguk, &#34;Boleh. No horror, ya.&#34;&#xA;&#xA;Kini Thalia yang mengangguk semangat, lalu menyelesaikan acara makan dan minumnya di kafe tersebut.&#xA;&#xA;Selesainya di sana, keduanya keluar menuju mobil yang terparkir beberapa puluh meter dari kafe. Maklum, kafe itu tidak memiliki lahan parkir di depannya persis sehingga menyewa lahan lain.&#xA;&#xA;Sedang berjalan melewati sebuah kafe lainnya, Thalia berhenti karena melihat sosok yang ia kenal tengah berjongkok sambil memainkan sesuatu.&#xA;&#xA;Thalia jalan mendekat, &#34;Milly?&#34; panggilnya pelan.&#xA;&#xA;Gadis kecil itu menengadah, lalu tersenyum lebar pada Thalia, &#34;KAKAK CANTIK!!&#34;&#xA;&#xA;Senyum Thalia turut melebar melihat itu benar Milly, &#34;Milly ngapain di sini?&#34; tanyanya.&#xA;&#xA;&#34;Nemenin Kakak Niko,&#34; Milly menunjuk kafe yang ada di depan mereka.&#xA;&#xA;&#34;Kak Niko lagi beli sesuatu di dalam?&#34;&#xA;&#xA;Milly menggeleng, &#34;Kak Niko kerja, jadi Milly tunggu Kak Niko.&#34; &#xA;&#xA;Satu fakta yang Thalia baru tahu, Niko bekerja di sebuah coffee shop.&#xA;&#xA;&#34;Kak Niko pulang jam berapa? Kenapa Milly ngga tunggu di rumah aja?&#34;&#xA;&#xA;Milly menggeleng, &#34;Nanti kalau Kak Niko selesai kerja, Kak Niko mau ajak Milly ke pasar malam. Jadinya tadi Milly dijemput ke sini.&#34;&#xA;&#xA;Ah, Thalia mengerti. Sepertinya Milly belum lama ada di sini, dan juga jam kerja Niko sebentar lagi akan selesai.&#xA;&#xA;&#34;Tha, kok masih di sini? Kirain nyasar.&#34; Radiv yang tadi berjalan lebih dulu dan melihat tidak ada adiknya, kembali karena takut Thalia hilang.&#xA;&#xA;&#34;Eh, lupa, Kak. Hehehe.&#34; Kekeh Thalia.&#xA;&#xA;Radiv kemudian mengalihkan pandangannya pada anak kecil yang ada di depannya, ia keryitkan keningnya karena merasa aneh dan asing ditatap anak itu. Milly.&#xA;&#xA;Belum mereka lanjut bicara, seseorang yang baru keluar dari coffee shop tiba-tiba menabrak Milly. Minuman yang ia bawa tumpah membasahi sedikit wajah dan baju gadis kecil itu.&#xA;&#xA;&#34;Aduh, gimana sih, anak kecil?!&#34;&#xA;&#xA;Thalia mengeryit ketika orang itu justru marah pada Milly, &#34;Lho, mbak yang nabrak kok mbak juga yang marah?&#34; protes Thalia sambil mengelap wajah basah Milly dengan tangannya.&#xA;&#xA;&#34;Ya ngapain anak kecil main di depan sini? Ganggu orang jalan aja.&#34; Orang itu tidak mau kalah, &#34;Minuman saya tumpah, ganti rugi kamu!&#34; Cecarnya pada Milly.&#xA;&#xA;&#34;Enak aja main minta ganti rugi, situ yang salah juga.&#34; Sewot Thalia.&#xA;&#xA;&#34;Jelas minta ganti rugi lah, kalau anak ini ngga ngalangin jalan saya, ngga akan saya tabrak dia. Ngga akan minuman saya tumpah.&#34; Omel orang itu hingga menarik atensi beberapa orang yang ada di sana.&#xA;&#xA;&#34;Kalau anda jalan dengan benar dan ngga sibuk sama hp saat keluar tadi, ngga akan mba nabrak anak ini sampai minuman anda sendiri tumpah. Bahkan Wajah sama bajunya basah akibat kelalaian anda. Dan kalau saya bilang seharusnya anda yang ganti rugi, gimana?&#34; Radiv yang sedari tadi diam, akhirnya bicara dengan tegas dan terkesan galak.&#xA;&#xA;&#34;Beraninya kamu sama perempuㅡ&#34;&#xA;&#xA;&#34;Beraninya sama anak kecil!&#34; Potong Radiv tegas.&#xA;&#xA;Orang itu diam dengan wajah masamnya, dan akhirnya memilih meninggalkan tempat itu karena beberapa orang juga mulai menyalahkannya.&#xA;&#xA;Thalia menghela napas, lalu sedikit menunduk, &#34;Baju Milly basah, ganti dulu, yuk?&#34;&#xA;&#xA;Milly melirik ke dalam kafe, &#34;Milly ngga bawa baju ganti, Kakak cantik.&#34; sedihnya.&#xA;&#xA;Gadis cantik itu mengalihkan pandangannya ke sekitar, hingga ia menemukan sebuah toko baju tidak jauh dari sana.&#xA;&#xA;&#34;Ada toko baju anak, yuk beli dan ganti di sana!&#34; Ajak Thalia.&#xA;&#xA;&#34;Tha?&#34; interupsi Radiv.&#xA;&#xA;&#34;Sebentar, ya, Kakak ke mobil duluan aja ngga apa-apa. Nanti kalau udah selesai, Thalia nyusul deh.&#34; Ucapnya.&#xA;&#xA;Radiv menghela napas, ia mengangguk setuju dan akhirnya berpisah dengan Thalia.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;@makaroon99&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Radiv itu anak tunggal, sama dengan Thalia. Mereka adalah sepupu dekat, di mana Ayah Thalia merupakan adik dari Mama Radiv.</p>

<p>Waktu kecil, mereka tinggal di rumah yang sama, diurus oleh kakek-neneknya. Sampai Thalia usia 10 tahun dan Radiv 12 tahun, mereka berpisah rumah.</p>

<p>Walau demikian, hubungan keduanya masih sangat dekat. Dan dibandingkan dengan saudara sepupu, mereka terlihat seperti saudara kandung.</p>



<p>Sifat protektif Radiv kecil terhadap Thalia terbawa sampai sekarang. Semua yang Thalia mau, pasti ia turuti. Apa yang membuat Thalia sedih bahkan menangis, pasti ia marahi, termasuk Mama dan Ayah Thalia sendiri.</p>

<p>Jadi ingat waktu Thalia menangis dan mengadu pada Radiv karena harus masuk kuliah jurusan Bisnis, Radiv marah pada OmnyaㅡAyah Thaliaㅡ dan sempat membawa Thalia tidur di rumahnya selama 3 hari, alias membantu Thalia kabur dari rumah.</p>

<p>Radiv sesayang itu pada Thalia. Makanya, sesibuk apapun Radiv, akan mengusahakan meluangkan waktunya untuk Thalia.</p>

<hr/>

<p>“Abis ini mau ke mana?” tanya Radiv ketika melihat makanan Thalia tinggal sedikit.</p>

<p>“Hmm, nonton?”</p>

<p>Radiv mengangguk, “Boleh. No horror, ya.”</p>

<p>Kini Thalia yang mengangguk semangat, lalu menyelesaikan acara makan dan minumnya di kafe tersebut.</p>

<p>Selesainya di sana, keduanya keluar menuju mobil yang terparkir beberapa puluh meter dari kafe. Maklum, kafe itu tidak memiliki lahan parkir di depannya persis sehingga menyewa lahan lain.</p>

<p>Sedang berjalan melewati sebuah kafe lainnya, Thalia berhenti karena melihat sosok yang ia kenal tengah berjongkok sambil memainkan sesuatu.</p>

<p>Thalia jalan mendekat, “Milly?” panggilnya pelan.</p>

<p>Gadis kecil itu menengadah, lalu tersenyum lebar pada Thalia, “KAKAK CANTIK!!”</p>

<p>Senyum Thalia turut melebar melihat itu benar Milly, “Milly ngapain di sini?” tanyanya.</p>

<p>“Nemenin Kakak Niko,” Milly menunjuk kafe yang ada di depan mereka.</p>

<p>“Kak Niko lagi beli sesuatu di dalam?”</p>

<p>Milly menggeleng, “Kak Niko kerja, jadi Milly tunggu Kak Niko.”</p>

<p>Satu fakta yang Thalia baru tahu, Niko bekerja di sebuah coffee shop.</p>

<p>“Kak Niko pulang jam berapa? Kenapa Milly ngga tunggu di rumah aja?”</p>

<p>Milly menggeleng, “Nanti kalau Kak Niko selesai kerja, Kak Niko mau ajak Milly ke pasar malam. Jadinya tadi Milly dijemput ke sini.”</p>

<p>Ah, Thalia mengerti. Sepertinya Milly belum lama ada di sini, dan juga jam kerja Niko sebentar lagi akan selesai.</p>

<p>“Tha, kok masih di sini? Kirain nyasar.” Radiv yang tadi berjalan lebih dulu dan melihat tidak ada adiknya, kembali karena takut Thalia hilang.</p>

<p>“Eh, lupa, Kak. Hehehe.” Kekeh Thalia.</p>

<p>Radiv kemudian mengalihkan pandangannya pada anak kecil yang ada di depannya, ia keryitkan keningnya karena merasa aneh dan asing ditatap anak itu. Milly.</p>

<p>Belum mereka lanjut bicara, seseorang yang baru keluar dari coffee shop tiba-tiba menabrak Milly. Minuman yang ia bawa tumpah membasahi sedikit wajah dan baju gadis kecil itu.</p>

<p>“Aduh, gimana sih, anak kecil?!”</p>

<p>Thalia mengeryit ketika orang itu justru marah pada Milly, “Lho, mbak yang nabrak kok mbak juga yang marah?” protes Thalia sambil mengelap wajah basah Milly dengan tangannya.</p>

<p>“Ya ngapain anak kecil main di depan sini? Ganggu orang jalan aja.” Orang itu tidak mau kalah, “Minuman saya tumpah, ganti rugi kamu!” Cecarnya pada Milly.</p>

<p>“Enak aja main minta ganti rugi, situ yang salah juga.” Sewot Thalia.</p>

<p>“Jelas minta ganti rugi lah, kalau anak ini ngga ngalangin jalan saya, ngga akan saya tabrak dia. Ngga akan minuman saya tumpah.” Omel orang itu hingga menarik atensi beberapa orang yang ada di sana.</p>

<p>“Kalau anda jalan dengan benar dan ngga sibuk sama hp saat keluar tadi, ngga akan mba nabrak anak ini sampai minuman anda sendiri tumpah. Bahkan Wajah sama bajunya basah akibat kelalaian anda. Dan kalau saya bilang seharusnya anda yang ganti rugi, gimana?” Radiv yang sedari tadi diam, akhirnya bicara dengan tegas dan terkesan galak.</p>

<p>“Beraninya kamu sama perempuㅡ”</p>

<p>“Beraninya sama anak kecil!” Potong Radiv tegas.</p>

<p>Orang itu diam dengan wajah masamnya, dan akhirnya memilih meninggalkan tempat itu karena beberapa orang juga mulai menyalahkannya.</p>

<p>Thalia menghela napas, lalu sedikit menunduk, “Baju Milly basah, ganti dulu, yuk?”</p>

<p>Milly melirik ke dalam kafe, “Milly ngga bawa baju ganti, Kakak cantik.” sedihnya.</p>

<p>Gadis cantik itu mengalihkan pandangannya ke sekitar, hingga ia menemukan sebuah toko baju tidak jauh dari sana.</p>

<p>“Ada toko baju anak, yuk beli dan ganti di sana!” Ajak Thalia.</p>

<p>“Tha?” interupsi Radiv.</p>

<p>“Sebentar, ya, Kakak ke mobil duluan aja ngga apa-apa. Nanti kalau udah selesai, Thalia nyusul deh.” Ucapnya.</p>

<p>Radiv menghela napas, ia mengangguk setuju dan akhirnya berpisah dengan Thalia.</p>

<hr/>

<p>@makaroon99</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://makaroon99.writeas.com/sore-itu-hrc6</guid>
      <pubDate>Thu, 17 Mar 2022 01:29:27 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Niko</title>
      <link>https://makaroon99.writeas.com/niko?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;  tw , cw&#xA;  Mention of death, orphan , yatim piatu&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Thalia dan Niko saat ini sudah berada di kafe depan kampus. Mereka mengambil tempat di lantai 2, duduk lesehan beralaskan karpet yang cukup tebal.&#xA;&#xA;&#34;Kakak ngga pesan makanan atau minuman?&#34; tanya Thalia setelah sadar bahwa yang ada di meja hanya makanan dan minuman miliknya saja. Padahal itu semua Niko yang bayar.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Laki-laki di hadapannya menggeleng, &#34;Engga, aku kenyang.&#34;&#xA;&#xA;Thalia mengeryit, &#34;Emang kakak udah makan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Udah tadi siang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Itu &#39;kan makan siang. Lagipula makanan sama minumanku kakak yang bayar, masa kakak ngga makan apa-apa? Ini bareng aja deh.&#34; Thalia menyodorkan kentang goreng miliknya.&#xA;&#xA;&#34;Ngga apa-apa, Thalia, kamu makan aja.&#34; Jawab Niko dibarengi senyum tipisnya.&#xA;&#xA;Akhirnya Thalia menunda acara makan kentang goreng tersebut, menunggu Niko mencicipinya.&#xA;&#xA;Namun, hingga 30 menit mereka berkutik dengan buku dan artikel di web, Niko masih belum menyentuhnya. Kentang goreng itu masih utuh dari terakhir Thalia memakannya.&#xA;&#xA;&#34;Thalia, dimakan aja kentangnya.&#34; Ujar Niko.&#xA;&#xA;&#34;Kak Niko ngga makan, aku jadi males.&#34; Jawab Thalia.&#xA;&#xA;Niko terkekeh, &#34;Ya udah, ini aku makan. Ayo makan!&#34; Ia meraih 2 potong kentang dan memasukkannya ke dalam mulut.&#xA;&#xA;Akhirnya Thalia ikut makan sambil kemudian melanjutkan pekerjaannya bersama Niko.&#xA;&#xA;Tugas paper ini memang tidak terlalu sulit, hanya saja kalau bisa dikerjakan lebih cepat akan lebih baik. Walau tidak akan kelar walau hanya sehari alias beberapa jam.&#xA;&#xA;&#34;Oh ya, Kak Niko setiap jam makan siang ngga di kampus itu ke mana?&#34; tanya Thalia.&#xA;&#xA;&#34;Jemput adik aku,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kakak punya adik?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Punya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kok dijemput? Dia kelas berapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kelas tiga SD, Tha. Dia pulang jam dua belas, jadi harus aku jemput di sekolah. Abis itu pulang, makan siang sama dia dan baru balik ke kampus lagi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Naik sepeda?&#34;&#xA;&#xA;Niko mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Ngga capek, Kak?&#34;&#xA;&#xA;Kali ini Niko menggeleng.&#xA;&#xA;&#34;Hebat!&#34; Cicit Thalia, &#34;Emang di rumah ngga ada orang buat jemput adiknya kakak?&#34;&#xA;&#xA;Niko tersenyum kecil, &#34;Kami yatim piatu, Thalia.&#34;&#xA;&#xA;Napas Thalia terkecat, ia seakan kehilangan kinerja paru-parunya untuk beberapa detik ke depan. Hingga akhirnya Niko sedikit bercerita tentang keadaan rumahnya.&#xA;&#xA;Ia sudah 3 tahun ini hanya tinggal berdua dengan adiknya setelah sebelumnya hanya bertiga dengan sang Ayah. Namun, saat itu sang Ayah meninggal akibat serangan jantung ketika tengah meninjau proyek di lapangan di jam kerja.&#xA;&#xA;Niko yang saat itu masih kelas 3 SMA sempat tidak tahu harus berbuat apa. Pasalnya, adiknya masih duduk di TK. Masih sangat kecil.&#xA;&#xA;Ia dan adiknya yang sudah ditinggal oleh keluarga besar dari orangtuanya akibat masalah internal yang tidak disebutkan, memilih meninggalkan rumah sederhana yang semula ia tempati.&#xA;&#xA;Rumah yang belum lunas itu ia over-credit kepada yang lain. Hingga ia memilih tinggal di rumah sepetak bersama sang adik.&#xA;&#xA;Niko yang semula enggan kuliah pun akhirnya memutuskan untuk kuliah karena mendapat beasiswaㅡkarena ia merupakan murid berprestasi di sekolah. Walau sedikit tidak tega meninggalkan sang adik, tapi ia bersyukur karena si kecil cukup dewasa dan mengerti.&#xA;&#xA;Untuk sehari-harinya, Niko masih mengandalkan uang tunjangan dari kantor mendiang Ayahnya. Uang bulanan tersebut bisa untuk makan dan jajan adiknya. Maka dari itu, ia memilih menaiki sepeda setiap hari untuk meminimalisir pengeluaran.&#xA;&#xA;&#34;Kakak kenapa ngga bilang kalau adiknya kakak masih sekecil itu? Aku jadi merasa bersalah bikin dia lama-lama sendirian di rumah karena kakaknya lagi nugas.&#34; Ucap Thalia.&#xA;&#xA;&#34;Ngga apa-apa, Thalia. Aku tadi pagi udah bilang sama dia kok.&#34; Respon Niko.&#xA;&#xA;&#34;Ngga deh, aku ngga tega. Ayo, kakak pulang aja. Udah gelap juga, kasian dia sendirian.&#34; Thalia merapihkan mejanya, memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas.&#xA;&#xA;Dan akhirnya, Niko menuruti saja keinginan Thalia.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;@makaroon99]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<blockquote><p>tw , cw
Mention of death, orphan , yatim piatu</p></blockquote>

<hr/>

<p>Thalia dan Niko saat ini sudah berada di kafe depan kampus. Mereka mengambil tempat di lantai 2, duduk lesehan beralaskan karpet yang cukup tebal.</p>

<p>“Kakak ngga pesan makanan atau minuman?” tanya Thalia setelah sadar bahwa yang ada di meja hanya makanan dan minuman miliknya saja. Padahal itu semua Niko yang bayar.</p>



<p>Laki-laki di hadapannya menggeleng, “Engga, aku kenyang.”</p>

<p>Thalia mengeryit, “Emang kakak udah makan?”</p>

<p>“Udah tadi siang.”</p>

<p>“Itu &#39;kan makan siang. Lagipula makanan sama minumanku kakak yang bayar, masa kakak ngga makan apa-apa? Ini bareng aja deh.” Thalia menyodorkan kentang goreng miliknya.</p>

<p>“Ngga apa-apa, Thalia, kamu makan aja.” Jawab Niko dibarengi senyum tipisnya.</p>

<p>Akhirnya Thalia menunda acara makan kentang goreng tersebut, menunggu Niko mencicipinya.</p>

<p>Namun, hingga 30 menit mereka berkutik dengan buku dan artikel di web, Niko masih belum menyentuhnya. Kentang goreng itu masih utuh dari terakhir Thalia memakannya.</p>

<p>“Thalia, dimakan aja kentangnya.” Ujar Niko.</p>

<p>“Kak Niko ngga makan, aku jadi males.” Jawab Thalia.</p>

<p>Niko terkekeh, “Ya udah, ini aku makan. Ayo makan!” Ia meraih 2 potong kentang dan memasukkannya ke dalam mulut.</p>

<p>Akhirnya Thalia ikut makan sambil kemudian melanjutkan pekerjaannya bersama Niko.</p>

<p>Tugas paper ini memang tidak terlalu sulit, hanya saja kalau bisa dikerjakan lebih cepat akan lebih baik. Walau tidak akan kelar walau hanya sehari alias beberapa jam.</p>

<p>“Oh ya, Kak Niko setiap jam makan siang ngga di kampus itu ke mana?” tanya Thalia.</p>

<p>“Jemput adik aku,”</p>

<p>“Kakak punya adik?”</p>

<p>“Punya.”</p>

<p>“Kok dijemput? Dia kelas berapa?”</p>

<p>“Kelas tiga SD, Tha. Dia pulang jam dua belas, jadi harus aku jemput di sekolah. Abis itu pulang, makan siang sama dia dan baru balik ke kampus lagi.”</p>

<p>“Naik sepeda?”</p>

<p>Niko mengangguk.</p>

<p>“Ngga capek, Kak?”</p>

<p>Kali ini Niko menggeleng.</p>

<p>“Hebat!” Cicit Thalia, “Emang di rumah ngga ada orang buat jemput adiknya kakak?”</p>

<p>Niko tersenyum kecil, “Kami yatim piatu, Thalia.”</p>

<p>Napas Thalia terkecat, ia seakan kehilangan kinerja paru-parunya untuk beberapa detik ke depan. Hingga akhirnya Niko sedikit bercerita tentang keadaan rumahnya.</p>

<p>Ia sudah 3 tahun ini hanya tinggal berdua dengan adiknya setelah sebelumnya hanya bertiga dengan sang Ayah. Namun, saat itu sang Ayah meninggal akibat serangan jantung ketika tengah meninjau proyek di lapangan di jam kerja.</p>

<p>Niko yang saat itu masih kelas 3 SMA sempat tidak tahu harus berbuat apa. Pasalnya, adiknya masih duduk di TK. Masih sangat kecil.</p>

<p>Ia dan adiknya yang sudah ditinggal oleh keluarga besar dari orangtuanya akibat masalah internal yang tidak disebutkan, memilih meninggalkan rumah sederhana yang semula ia tempati.</p>

<p>Rumah yang belum lunas itu ia <em>over-credit</em> kepada yang lain. Hingga ia memilih tinggal di rumah sepetak bersama sang adik.</p>

<p>Niko yang semula enggan kuliah pun akhirnya memutuskan untuk kuliah karena mendapat beasiswaㅡkarena ia merupakan murid berprestasi di sekolah. Walau sedikit tidak tega meninggalkan sang adik, tapi ia bersyukur karena si kecil cukup dewasa dan mengerti.</p>

<p>Untuk sehari-harinya, Niko masih mengandalkan uang tunjangan dari kantor mendiang Ayahnya. Uang bulanan tersebut bisa untuk makan dan jajan adiknya. Maka dari itu, ia memilih menaiki sepeda setiap hari untuk meminimalisir pengeluaran.</p>

<p>“Kakak kenapa ngga bilang kalau adiknya kakak masih sekecil itu? Aku jadi merasa bersalah bikin dia lama-lama sendirian di rumah karena kakaknya lagi nugas.” Ucap Thalia.</p>

<p>“Ngga apa-apa, Thalia. Aku tadi pagi udah bilang sama dia kok.” Respon Niko.</p>

<p>“Ngga deh, aku ngga tega. Ayo, kakak pulang aja. Udah gelap juga, kasian dia sendirian.” Thalia merapihkan mejanya, memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas.</p>

<p>Dan akhirnya, Niko menuruti saja keinginan Thalia.</p>

<hr/>

<p>@makaroon99</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://makaroon99.writeas.com/niko</guid>
      <pubDate>Tue, 15 Mar 2022 09:07:35 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Mid Day</title>
      <link>https://makaroon99.writeas.com/mid-day?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Hegar keluar kelas pertama pukul 09.45 pagi bersama Anna. Kebetulan dosen di mata kuliah kedua di jam 10 mereka tidak hadir. Keduanya pun memutuskan untuk turun.&#xA;&#xA;&#34;Ann, gue ke toilet dulu.&#34; Ucap Hegar.&#xA;&#xA;&#34;Oke, gue mau samperin Varo, ya.&#34;&#xA;&#xA;Hegar mengangguk, kemudian ia berpencar dengan Anna yang berjalan ke arah lain.&#xA;&#xA;Setelah selesai dengan urusannya, Hegar bertemu dengan seorang dosen muda yang terkenal menyebalkan.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Tolong belikan saya kopi di Bu Mun, ya? Yang di kantin belakang itu.&#34; Ujar sang dosen.&#xA;&#xA;Kantin belakang, tempat mahasiswa beristirahat usai melakukan aktivitas UKM bela diri dan panjat tebing. Jaraknya agak jauh jauh, berada di luar fakultasnya.&#xA;&#xA;&#34;Oh, iya, Pak.&#34; Hegar mau-tidak mau mengiyakan permintaan sang dosen.&#xA;&#xA;Sesampainya di kantin belakang yang cukup ramai itu, Hegar memesan kopi yang diminta sang dosen. Tidak peduli dengan pandangan orang yang tak suka akan kehadirannya, ada bisik-bisik tak mengenakkan pun ia abaikan.&#xA;&#xA;Sambil menunggu, Hegar melihat-lihat sekeliling kantin yang sangat dekat dengan pagar pembatas. Kebetulan pagar itu belum jadi pagar permanen karena sedang dalam masa perbaikan, sehingga masih menggunakan pagar besi kecil untuk sementara.&#xA;&#xA;Atensi Hegar teralihkan oleh sebuah mobil truk pengangkut puing. Setahunya, jalanan yang sedikit menurun itu masih milik kampus yang tidak boleh dilalui secara umum. Pun di hari kerja, tidak akan ada truk atau mobil pekerja dari kampus.&#xA;&#xA;Namun belum sempat ia berpikir lagi, pesanannya telah selesai. Walau masih penasaran, Hegar terpaksa pergi dari sana.&#xA;&#xA;Ketika melewati sebuah lorong sepi dekat ruang dosen fakultasnya, Hegar melihat seseorang berlari kecil dan terburu-buru masuk ke bagian lebih dalam lorong.&#xA;&#xA;&#34;Felicia?&#34; gumam Hegar.&#xA;&#xA;Bisik demi bisikan Hegar dengar dari tempat itu. Ia mengeryitkan kening dan menajamkan pendengaran agar mendapat informasi dari gelagat Fey yang mencurigakan itu.&#xA;&#xA;&#34;Kebetulan banget dia diminta ke kantin belakang, pokoknya segera laksanakan, ya. Awas, jangan sampai gagal!&#34;&#xA;&#xA;Hegar memundurkan langkahnya sedikit sebelum suara gadis itu terdengar lagi.&#xA;&#xA;&#34;Bikin truk itu melaju kencang! Gue ngga peduli sekalipun ada korban jiwa, yang penting rencana kali ini ngga boleh gagal.&#34;&#xA;&#xA;Truk itu. Truk mencurigakan yang Hegar lihat adalah kerjaan Fey. &#xA;&#xA;Hegar segera berlari menuju kantin belakang lagi sebelum hal itu terjadi. Niatnya, ia ingin keluar menuju truk yang ada di sana, setidaknya bisa menghentikan rencana tersebut, namun ketika ia melihat Anna dan 3 laki-laki lainnya duduk di kantin, ia beralih.&#xA;&#xA;&#34;Ann!&#34; Panggil Hegar panik.&#xA;&#xA;Anna melirik, &#34;Sini, Gar!&#34; Ajak Hegar.&#xA;&#xA;Hegar sampai di tempat Anna dan yang lain, &#34;Ngga. Jangan di sini, Ann.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Santai kenapa, Gar. Pesen kopi dulu lah?&#34; kata Albu santai.&#xA;&#xA;&#34;Truk itu akan ngebahayain kita.&#34; Ucap Hegar sambil menunjuk ke arah di mana truk itu berada.&#xA;&#xA;Anna, Varo, Albi, dan Revhan menoleh. Mereka nampak kebingungan mencari di mana truk yang dimaksud Hegar. Pasalnya, tidak ada kendaraan berupa truk di dalam maupun luar kampus.&#xA;&#xA;&#34;Ngaco!&#34; Kata Varo.&#xA;&#xA;&#34;Truk itu bakal bikin kita celaka. Ini udah direncanain samaㅡ&#34;&#xA;&#xA;&#34;Varo! Lo mending bawa temen aneh lo pergi dari sini deh.&#34; Tegur salah satu mahasiswa yang ada di meja sebelah mereka.&#xA;&#xA;&#34;Tau! Nanti kita kena sial lagi ada di sini.&#34; Timpal yang lain.&#xA;&#xA;&#34;Sorry, Bang.&#34; Balas Varo tidak enak.&#xA;&#xA;&#34;Mending kita pergi dulu aja deh,&#34; Revhan berdiri dari duduknya, lalu disusul Anna.&#xA;&#xA;&#34;Ayo, pindah!&#34; Ajak Anna sambil menarik Hegar dan Varo bersamaan.&#xA;&#xA;Tapi Hegar masih tidak tenang karena ia penasaran, ke mana perginya truk itu. Padahal belum ada 5 menit ia dari sini.&#xA;&#xA;Hingga akhirnya mereka berpindah ke kantin FEB, kebetulan masih jam kuliah jadi agak sepi. Hanya ada beberapa orang di sana yang duduk santai.&#xA;&#xA;&#34;Gar, sumpah deh itu feeling doang atau gimana?&#34; tanya Varo.&#xA;&#xA;&#34;Gue dengar sendiri, dia bicara sama seseorang di telepon.&#34; Jawab Hegar.&#xA;&#xA;&#34;Orang gila apa gimana sih, beneran ngga sarap tuh orang.&#34; Kesal Albi.&#xA;&#xA;&#34;Tapi biar apa, Gar? Kalau mau celakain kita &#39;kan ngga mungkin?&#34; Anna mengeryit dalam sambil menatap Hegar.&#xA;&#xA;Belum sempat Hegar jawab, seseorang datang. Kebetulan orang itu datang dari arah belakang Hegar.&#xA;&#xA;&#34;Varo, gue nyariin ke atas lo ngga ada.&#34; Kata Fey.&#xA;&#xA;Varo dan yang lain menatap Fey dengan sedikit datar. Kecuali Revhan, dia yang ada di sebelah Hegar menatap Fey dengan sangat tajam.&#xA;&#xA;&#34;E-eh, ada Hegar?&#34; Fey merubah rautnya sedikit ketakutan.&#xA;&#xA;&#34;Iya, kami lagi diskusi.&#34; Jawab Albi, &#34;Lo ngga mau join ke club, &#39;kan? Mending pergi aja.&#34; Usirnya kemudian.&#xA;&#xA;&#34;Gue diusir?&#34; wajah Fey memelas.&#xA;&#xA;Hegar berdiri, &#34;Kalau lo keganggu karena ada gue, biar gue aja yang pergi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ngga usah!&#34; Tahan Revhan, &#34;Justru lebih ganggu dia kali, Gar.&#34; Tambahnya.&#xA;&#xA;Fey mengeryit, menatap Revhan tidak suka. Gadis itu kemudian beralih pada Varo yang ada di sebelah Anna.&#xA;&#xA;&#34;Varo?&#34; ceritanya, ia ingin mengadu, tapiㅡ&#xA;&#xA;&#34;Kalau lo masih percaya Hegar anak pembawa sial, lo boleh pergi. Kalau engga, sini duduk sama kami.&#34; Ujar Varo tenang.&#xA;&#xA;Fey tidak pernah menyangka kalau Varo akan mengatakan hal seperti itu. Tidak seberapa berarti jika didengar orang biasa, tapi untuknya…&#xA;&#xA;&#34;Gue ke perpus aja deh.&#34; Dan kemudian Fey pergi.&#xA;&#xA;&#34;Tersangkanya kabur, anjir.&#34; Kesal Albi.&#xA;&#xA;&#34;Biarin aja, biar damai ngga ada dia.&#34; Sahut Varo.&#xA;&#xA;Beberapa menit mereka duduk di sana sambil sempat membahas mata kuliah dan minum, ramai beberapa orang terdengar dari kejauhan. Orang-orang yang penasaran pun mulai keluar dan berjalan ke ujung, hingga akhirnya mereka menyadari sesuatu.&#xA;&#xA;Kecelakaan itu benar-benar terjadi.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;@makaroon99&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Hegar keluar kelas pertama pukul 09.45 pagi bersama Anna. Kebetulan dosen di mata kuliah kedua di jam 10 mereka tidak hadir. Keduanya pun memutuskan untuk turun.</p>

<p>“Ann, gue ke toilet dulu.” Ucap Hegar.</p>

<p>“Oke, gue mau samperin Varo, ya.”</p>

<p>Hegar mengangguk, kemudian ia berpencar dengan Anna yang berjalan ke arah lain.</p>

<p>Setelah selesai dengan urusannya, Hegar bertemu dengan seorang dosen muda yang terkenal menyebalkan.</p>



<p>“Tolong belikan saya kopi di Bu Mun, ya? Yang di kantin belakang itu.” Ujar sang dosen.</p>

<p>Kantin belakang, tempat mahasiswa beristirahat usai melakukan aktivitas UKM bela diri dan panjat tebing. Jaraknya agak jauh jauh, berada di luar fakultasnya.</p>

<p>“Oh, iya, Pak.” Hegar mau-tidak mau mengiyakan permintaan sang dosen.</p>

<p>Sesampainya di kantin belakang yang cukup ramai itu, Hegar memesan kopi yang diminta sang dosen. Tidak peduli dengan pandangan orang yang tak suka akan kehadirannya, ada bisik-bisik tak mengenakkan pun ia abaikan.</p>

<p>Sambil menunggu, Hegar melihat-lihat sekeliling kantin yang sangat dekat dengan pagar pembatas. Kebetulan pagar itu belum jadi pagar permanen karena sedang dalam masa perbaikan, sehingga masih menggunakan pagar besi kecil untuk sementara.</p>

<p>Atensi Hegar teralihkan oleh sebuah mobil truk pengangkut puing. Setahunya, jalanan yang sedikit menurun itu masih milik kampus yang tidak boleh dilalui secara umum. Pun di hari kerja, tidak akan ada truk atau mobil pekerja dari kampus.</p>

<p>Namun belum sempat ia berpikir lagi, pesanannya telah selesai. Walau masih penasaran, Hegar terpaksa pergi dari sana.</p>

<p>Ketika melewati sebuah lorong sepi dekat ruang dosen fakultasnya, Hegar melihat seseorang berlari kecil dan terburu-buru masuk ke bagian lebih dalam lorong.</p>

<p>“Felicia?” gumam Hegar.</p>

<p>Bisik demi bisikan Hegar dengar dari tempat itu. Ia mengeryitkan kening dan menajamkan pendengaran agar mendapat informasi dari gelagat Fey yang mencurigakan itu.</p>

<p><em>“Kebetulan banget dia diminta ke kantin belakang, pokoknya segera laksanakan, ya. Awas, jangan sampai gagal!”</em></p>

<p>Hegar memundurkan langkahnya sedikit sebelum suara gadis itu terdengar lagi.</p>

<p><em>“Bikin truk itu melaju kencang! Gue ngga peduli sekalipun ada korban jiwa, yang penting rencana kali ini ngga boleh gagal.”</em></p>

<p>Truk itu. Truk mencurigakan yang Hegar lihat adalah kerjaan Fey.</p>

<p>Hegar segera berlari menuju kantin belakang lagi sebelum hal itu terjadi. Niatnya, ia ingin keluar menuju truk yang ada di sana, setidaknya bisa menghentikan rencana tersebut, namun ketika ia melihat Anna dan 3 laki-laki lainnya duduk di kantin, ia beralih.</p>

<p>“Ann!” Panggil Hegar panik.</p>

<p>Anna melirik, “Sini, Gar!” Ajak Hegar.</p>

<p>Hegar sampai di tempat Anna dan yang lain, “Ngga. Jangan di sini, Ann.”</p>

<p>“Santai kenapa, Gar. Pesen kopi dulu lah?” kata Albu santai.</p>

<p>“Truk itu akan ngebahayain kita.” Ucap Hegar sambil menunjuk ke arah di mana truk itu berada.</p>

<p>Anna, Varo, Albi, dan Revhan menoleh. Mereka nampak kebingungan mencari di mana truk yang dimaksud Hegar. Pasalnya, tidak ada kendaraan berupa truk di dalam maupun luar kampus.</p>

<p>“Ngaco!” Kata Varo.</p>

<p>“Truk itu bakal bikin kita celaka. Ini udah direncanain samaㅡ”</p>

<p>“Varo! Lo mending bawa temen aneh lo pergi dari sini deh.” Tegur salah satu mahasiswa yang ada di meja sebelah mereka.</p>

<p>“Tau! Nanti kita kena sial lagi ada di sini.” Timpal yang lain.</p>

<p>“<em>Sorry</em>, Bang.” Balas Varo tidak enak.</p>

<p>“Mending kita pergi dulu aja deh,” Revhan berdiri dari duduknya, lalu disusul Anna.</p>

<p>“Ayo, pindah!” Ajak Anna sambil menarik Hegar dan Varo bersamaan.</p>

<p>Tapi Hegar masih tidak tenang karena ia penasaran, ke mana perginya truk itu. Padahal belum ada 5 menit ia dari sini.</p>

<p>Hingga akhirnya mereka berpindah ke kantin FEB, kebetulan masih jam kuliah jadi agak sepi. Hanya ada beberapa orang di sana yang duduk santai.</p>

<p>“Gar, sumpah deh itu <em>feeling</em> doang atau gimana?” tanya Varo.</p>

<p>“Gue dengar sendiri, dia bicara sama seseorang di telepon.” Jawab Hegar.</p>

<p>“Orang gila apa gimana sih, beneran ngga sarap tuh orang.” Kesal Albi.</p>

<p>“Tapi biar apa, Gar? Kalau mau celakain kita &#39;kan ngga mungkin?” Anna mengeryit dalam sambil menatap Hegar.</p>

<p>Belum sempat Hegar jawab, seseorang datang. Kebetulan orang itu datang dari arah belakang Hegar.</p>

<p>“Varo, gue nyariin ke atas lo ngga ada.” Kata Fey.</p>

<p>Varo dan yang lain menatap Fey dengan sedikit datar. Kecuali Revhan, dia yang ada di sebelah Hegar menatap Fey dengan sangat tajam.</p>

<p>“E-eh, ada Hegar?” Fey merubah rautnya sedikit ketakutan.</p>

<p>“Iya, kami lagi diskusi.” Jawab Albi, “Lo ngga mau <em>join</em> ke <em>club</em>, &#39;kan? Mending pergi aja.” Usirnya kemudian.</p>

<p>“Gue diusir?” wajah Fey memelas.</p>

<p>Hegar berdiri, “Kalau lo keganggu karena ada gue, biar gue aja yang pergi.”</p>

<p>“Ngga usah!” Tahan Revhan, “Justru lebih ganggu dia kali, Gar.” Tambahnya.</p>

<p>Fey mengeryit, menatap Revhan tidak suka. Gadis itu kemudian beralih pada Varo yang ada di sebelah Anna.</p>

<p>“Varo?” ceritanya, ia ingin mengadu, tapiㅡ</p>

<p>“Kalau lo masih percaya Hegar anak pembawa sial, lo boleh pergi. Kalau engga, sini duduk sama kami.” Ujar Varo tenang.</p>

<p>Fey tidak pernah menyangka kalau Varo akan mengatakan hal seperti itu. Tidak seberapa berarti jika didengar orang biasa, tapi untuknya…</p>

<p>“Gue ke perpus aja deh.” Dan kemudian Fey pergi.</p>

<p>“Tersangkanya kabur, anjir.” Kesal Albi.</p>

<p>“Biarin aja, biar damai ngga ada dia.” Sahut Varo.</p>

<p>Beberapa menit mereka duduk di sana sambil sempat membahas mata kuliah dan minum, ramai beberapa orang terdengar dari kejauhan. Orang-orang yang penasaran pun mulai keluar dan berjalan ke ujung, hingga akhirnya mereka menyadari sesuatu.</p>

<p>Kecelakaan itu benar-benar terjadi.</p>

<hr/>

<p>@makaroon99</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://makaroon99.writeas.com/mid-day</guid>
      <pubDate>Wed, 02 Mar 2022 16:55:11 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>That Night pt. 2</title>
      <link>https://makaroon99.writeas.com/that-night-pt?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Rasanya, Anna enggan beranjak, ia tidak mau pulang. Anna tidak siap jika harus bertemu dengan calon Ayah sekaligus calon saudara tirinya. Ia menangis.&#xA;&#xA;&#34;Shevanna?&#34;&#xA;&#xA;Gadis itu mengangkat kepalanya tatkala mendengar suara seseorang memanggilnya.&#xA;&#xA;&#34;Kok lo di sini? Pasti disuruh Bunda, ya?&#34; tanya Anna pada sosok itu.&#xA;&#xA;&#34;Ngapain nangis?&#34; sosok itu duduk di sebelah Anna.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Ih, pertanyaan gue ngga dijawab!&#34; Kesalnya.&#xA;&#xA;&#34;Ngga penting, Anna.&#34;&#xA;&#xA;Anna diam tidak menyauti orang itu. Bahkan sampai beberapa menit ke depan, keduanya masih saling diam.&#xA;&#xA;&#34;Lo kenapa ngga izinin Bunda?&#34; tanya orang itu.&#xA;&#xA;&#34;Jangan bahas itu dulu, Hegar.&#34; Ya, orang yang ada di sebelah Anna saat ini adalah Hegar.&#xA;&#xA;&#34;Harusnya dibahas karena itu masalah yang lagi lo hadapi.&#34; Balas Hegar.&#xA;&#xA;Anna hanya menghembuskan napas kasarnya lalu kembali menutup mulut.&#xA;&#xA;&#34;Lo suka sama gue, ya?&#34; terka Hegar.&#xA;&#xA;Gadis itu melotot menatap Hegar, &#34;Apa-apaan?!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus apa alasan lo sampai nolak punya Ayah dan saudara tiri?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ngga tau.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo suka sama gue, &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apa sih? Kok lo pede banget?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalau gitu kasih gue alasannya, Anna.&#34;&#xA;&#xA;&#34;...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ngga ada alasan yang masuk akal selain lo suka sama gue, makanya lo ngga mau orangtua kita nikah. Bener ngga?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sejak kapan lo jadi banyak omong?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hehehe.&#34; Kekeh Hegar, &#34;Gue juga kok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gar?! Kita tuh bakal jadi saudara!&#34; Pekik Anna yang sempat ngeblank beberapa saat.&#xA;&#xA;&#34;Ternyata bener &#39;kan lo suka gue.&#34;&#xA;&#xA;Anna memicingkan matanya pada Hegar, &#34;Licik banget!&#34; Protes Anna.&#xA;&#xA;Hegar tersenyum kecil, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Anna. Laki-laki itu menatap Anna dalam dengan jarak hanya 10 cm saja.&#xA;&#xA;Anna menahan napas tatkala Hegar melakukan hal itu, ia juga kembali membalas tatapan Hegar.&#xA;&#xA;&#34;Napas.&#34; Ujar Hegar.&#xA;&#xA;&#34;H-hmm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo mau mati nahan napas selama itu?&#34;&#xA;&#xA;Anna menggeleng pelan.&#xA;&#xA;&#34;Gue mau bilang, cinta pertama belum tentu akan jadi cinta terakhir.&#34; Ucap Hegar lembut.&#xA;&#xA;&#34;Uhm?&#34; Anna menaikkan kedua alisnya.&#xA;&#xA;Chup&#xA;&#xA;Kini mata Anna terbuka lebar ketika sebuah kecupan berhasil mendarat di keningnya. Ya, di kening saja, jangan di tempat yang lain.&#xA;&#xA;&#34;Sedekat dan sesayang apapun mereka, kalau Tuhan tidak menakdirkan mereka untuk berjodoh, ya ngga akan terjadi.&#34;&#xA;&#xA;Anna hanya mengerjap, masih dengan posisinya.&#xA;&#xA;&#34;Papa sama Bunda di masa lalu memang saling cinta, Papa sekarang juga masih cinta sama Bunda, namun cintanya Bunda udah untuk orang lain. Sejak awal, Tuhan menyatukan mereka hanya untuk menjadikan keduanya manusia yang kuat, tapi tidak menakdirkan mereka untuk berjodoh.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jadi maksudnya, Bunda bukan akan nikah sama Papa lo?&#34;&#xA;&#xA;Hegar menjauhkan wajahnya, ia tersenyum sedikit lebih lebar, kemudian tangannya mengusak kepala Anna.&#xA;&#xA;&#34;Bukan, Shevanna.&#34; Gemas Hegar lalu ia berdiri.&#xA;&#xA;Anna hanya bisa memperhatikan Hegar karena tidak bisa berkata apa-apa. Ia sedikit malu karena ternyata ia salah paham.&#xA;&#xA;Tangan Hegar kini meraih tangan Anna, &#34;Ayo gue anter pulang, lo harus ketemu calon Ayah dan saudara tiri lo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;T-tapi...ㅡ&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ayo, Shevanna.&#34; Hegar kini benar-benar menarik Anna hingga keduanya pergi meninggalkan tempat itu.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Hegar turun dari motor Anna terlebih dahulu usai menyetandari di depan rumah. Anna yang duduk di belakang masih diam, matanya fokus pada mobil yang terparkir di depannya.&#xA;&#xA;&#34;Udah sana masuk!&#34; Titah Hegar.&#xA;&#xA;Anna melirik, &#34;Lo ngga ikut?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Buat apa? Ini acara keluarga lo, Anna.&#34;&#xA;&#xA;Gadis itu menghela napas, lalu turun dari motor. Ia melepas helm, kemudian pamit pergi ke dalam pada Hegar sementara laki-laki itu masih diam di tempat.&#xA;&#xA;Langkah gadis beralih memasuki pekarangan rumahnya, menaiki tangga dan kemudian disambut oleh sang Bunda.&#xA;&#xA;&#34;Anak Bunda,&#34; sapa Bunda dengan senyumannya.&#xA;&#xA;&#34;Bunda…&#34; Gumam Anna.&#xA;&#xA;&#34;Ayo masuk, sayang.&#34; Bunda merangkul Anna masuk ke dalam, tepatnya ke ruang makan.&#xA;&#xA;Kaki gadis itu seketika terhenti tatkala melihat seorang pria duduk di kursi meja makan, tersenyum padanya.&#xA;&#xA;&#34;Anna sudah pulang?&#34; sapa pria itu.&#xA;&#xA;Anna membuka mulutnya, &#34;Om Jeffan?!?!&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;@makaroon99&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya, Anna enggan beranjak, ia tidak mau pulang. Anna tidak siap jika harus bertemu dengan calon Ayah sekaligus calon saudara tirinya. Ia menangis.</p>

<p>“Shevanna?”</p>

<p>Gadis itu mengangkat kepalanya tatkala mendengar suara seseorang memanggilnya.</p>

<p>“Kok lo di sini? Pasti disuruh Bunda, ya?” tanya Anna pada sosok itu.</p>

<p>“Ngapain nangis?” sosok itu duduk di sebelah Anna.</p>



<p>“Ih, pertanyaan gue ngga dijawab!” Kesalnya.</p>

<p>“Ngga penting, Anna.”</p>

<p>Anna diam tidak menyauti orang itu. Bahkan sampai beberapa menit ke depan, keduanya masih saling diam.</p>

<p>“Lo kenapa ngga izinin Bunda?” tanya orang itu.</p>

<p>“Jangan bahas itu dulu, Hegar.” Ya, orang yang ada di sebelah Anna saat ini adalah Hegar.</p>

<p>“Harusnya dibahas karena itu masalah yang lagi lo hadapi.” Balas Hegar.</p>

<p>Anna hanya menghembuskan napas kasarnya lalu kembali menutup mulut.</p>

<p>“Lo suka sama gue, ya?” terka Hegar.</p>

<p>Gadis itu melotot menatap Hegar, “Apa-apaan?!”</p>

<p>“Terus apa alasan lo sampai nolak punya Ayah dan saudara tiri?”</p>

<p>“Ngga tau.”</p>

<p>“Lo suka sama gue, &#39;kan?”</p>

<p>“Apa sih? Kok lo pede banget?”</p>

<p>“Kalau gitu kasih gue alasannya, Anna.”</p>

<p>”...”</p>

<p>“Ngga ada alasan yang masuk akal selain lo suka sama gue, makanya lo ngga mau orangtua kita nikah. Bener ngga?”</p>

<p>“Sejak kapan lo jadi banyak omong?”</p>

<p>“Hehehe.” Kekeh Hegar, “Gue juga kok.”</p>

<p>“Gar?! Kita tuh bakal jadi saudara!” Pekik Anna yang sempat ngeblank beberapa saat.</p>

<p>“Ternyata bener &#39;kan lo suka gue.”</p>

<p>Anna memicingkan matanya pada Hegar, “Licik banget!” Protes Anna.</p>

<p>Hegar tersenyum kecil, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Anna. Laki-laki itu menatap Anna dalam dengan jarak hanya 10 cm saja.</p>

<p>Anna menahan napas tatkala Hegar melakukan hal itu, ia juga kembali membalas tatapan Hegar.</p>

<p>“Napas.” Ujar Hegar.</p>

<p>“H-hmm?”</p>

<p>“Lo mau mati nahan napas selama itu?”</p>

<p>Anna menggeleng pelan.</p>

<p>“Gue mau bilang, cinta pertama belum tentu akan jadi cinta terakhir.” Ucap Hegar lembut.</p>

<p>“Uhm?” Anna menaikkan kedua alisnya.</p>

<p><em>Chup</em></p>

<p>Kini mata Anna terbuka lebar ketika sebuah kecupan berhasil mendarat di keningnya. Ya, di kening saja, jangan di tempat yang lain.</p>

<p>“Sedekat dan sesayang apapun mereka, kalau Tuhan tidak menakdirkan mereka untuk berjodoh, ya ngga akan terjadi.”</p>

<p>Anna hanya mengerjap, masih dengan posisinya.</p>

<p>“Papa sama Bunda di masa lalu memang saling cinta, Papa sekarang juga masih cinta sama Bunda, namun cintanya Bunda udah untuk orang lain. Sejak awal, Tuhan menyatukan mereka hanya untuk menjadikan keduanya manusia yang kuat, tapi tidak menakdirkan mereka untuk berjodoh.”</p>

<p>“Jadi maksudnya, Bunda bukan akan nikah sama Papa lo?”</p>

<p>Hegar menjauhkan wajahnya, ia tersenyum sedikit lebih lebar, kemudian tangannya mengusak kepala Anna.</p>

<p>“Bukan, Shevanna.” Gemas Hegar lalu ia berdiri.</p>

<p>Anna hanya bisa memperhatikan Hegar karena tidak bisa berkata apa-apa. Ia sedikit malu karena ternyata ia salah paham.</p>

<p>Tangan Hegar kini meraih tangan Anna, “Ayo gue anter pulang, lo harus ketemu calon Ayah dan saudara tiri lo.”</p>

<p>“T-tapi...ㅡ”</p>

<p>“Ayo, Shevanna.” Hegar kini benar-benar menarik Anna hingga keduanya pergi meninggalkan tempat itu.</p>

<hr/>

<p>Hegar turun dari motor Anna terlebih dahulu usai menyetandari di depan rumah. Anna yang duduk di belakang masih diam, matanya fokus pada mobil yang terparkir di depannya.</p>

<p>“Udah sana masuk!” Titah Hegar.</p>

<p>Anna melirik, “Lo ngga ikut?”</p>

<p>“Buat apa? Ini acara keluarga lo, Anna.”</p>

<p>Gadis itu menghela napas, lalu turun dari motor. Ia melepas helm, kemudian pamit pergi ke dalam pada Hegar sementara laki-laki itu masih diam di tempat.</p>

<p>Langkah gadis beralih memasuki pekarangan rumahnya, menaiki tangga dan kemudian disambut oleh sang Bunda.</p>

<p>“Anak Bunda,” sapa Bunda dengan senyumannya.</p>

<p>“Bunda…” Gumam Anna.</p>

<p>“Ayo masuk, sayang.” Bunda merangkul Anna masuk ke dalam, tepatnya ke ruang makan.</p>

<p>Kaki gadis itu seketika terhenti tatkala melihat seorang pria duduk di kursi meja makan, tersenyum padanya.</p>

<p>“Anna sudah pulang?” sapa pria itu.</p>

<p>Anna membuka mulutnya, “Om Jeffan?!?!”</p>

<hr/>

<p>@makaroon99</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://makaroon99.writeas.com/that-night-pt</guid>
      <pubDate>Tue, 01 Mar 2022 01:15:34 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Anna and The Evening</title>
      <link>https://makaroon99.writeas.com/anna-and-the-evening?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Saat ini Anna sudah berada di dalam mobil Ayah Varo. Ia duduk di kursi tengah sementara Varo di depan bersama sang Ayah.&#xA;&#xA;&#34;Om Jeff, Anna mau nanya, boleh?&#34; Anna membuka suara.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa, Anna?&#34; Ayah Varo sedikit menoleh ke belakang.&#xA;&#xA;&#34;Kalau misal ada duda atau janda menikah, urus surat pernikahannya harus ada saksi ngga sih?&#34;&#xA;&#xA;Kini bukan Ayah Varo saja yang menoleh, tapi juga Varo. Keduanya keheranan dengan pertanyaan Anna.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Engga kok, yang harus ada saksi hanya ketika mereka akan ijab qabul aja.&#34; Jawab Ayah Varo, &#34;Memangnya siapa yang mau nikah?&#34;&#xA;&#xA;Anna menyandarkan punggungnya ke kursi, &#34;Kayaknya Bunda sama Papanya Hegar.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34; Varo dan Ayahnya sama-sama terkejut.&#xA;&#xA;Gadis itu melirik ke kanan dan kiriㅡke Varo dan Ayahnya secara bergantian, &#34;Mereka tadi pergi bareng tanpa kasih tau aku, kayaknya… mereka akan nikah deh, Om.&#34;&#xA;&#xA;Ayah Varo tertawa kecil, &#34;Memang kalau mereka menikah kenapa? Kayaknya Anna ngga suka?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Suka sama Hegar kali dia, Yah.&#34; Celetuk Varo.&#xA;&#xA;&#34;IH APAAN??!!&#34; Anna bangkit dan memukul pundak kanan Varo.&#xA;&#xA;&#34;Aduh!&#34; Ringis Varo, &#34;Kok ngamuk?&#34; protesnya.&#xA;&#xA;Anna terdiam, karena celetukan Varo membuatnya bete seketika. Akhirnya sepanjang perjalanan, ia hanya diam. Bahkan ketika ia mampir untuk makan dengan sepasang Ayah dan Anak itu, lebih banyak diam.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Anna sudah sampai rumah, sementara Varo dan Ayahnya langsung pamit dan kembali pulang. Kaki gadis itu melangkah masuk ke dalam rumah, lalu ia menjumpai tamu yang tengah berbincang seru dengan Bunda di meja makan.&#xA;&#xA;Sepertinya mereka baru akan memulainya.&#xA;&#xA;&#34;Eh, pas banget anak Bunda pulang. Makan dulu yuk, nak?&#34; ajak Bunda.&#xA;&#xA;&#34;Anna udah makan sama Varo dan Om Jeffan, Bun.&#34; Jawab Anna.&#xA;&#xA;&#34;Oh, gitu.&#34; Sesal Bunda.&#xA;&#xA;&#34;Anna langsung masuk ke kamar aja, ya, Bun.&#34; Anna hendak beranjak, namun ditahan Bunda.&#xA;&#xA;&#34;Anak Bunda sakit, ya? Kok lesu gini?&#34;&#xA;&#xA;Anna tersenyum kecil, &#34;Engga kok, Bun. Cuma capek sedikit aja abis kuliah seharian. Hehehe.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ngga apa-apa Anna biar istirahat aja, Sell.&#34; Ujar Papa Hegar pada Bunda Anna, Sella.&#xA;&#xA;&#34;Ya sudah, Anna istirahat aja. Jangan lupa mandi ya, nak.&#34; Bunda mengusap kepala Anna.&#xA;&#xA;&#34;Iya, Bunda.&#34; Jawabnya, &#34;Om Tian, Hegar! Anna ke kamar dulu, ya.&#34; Kemudian ia masuk ke dalam kamar.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;@makaroon99&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini Anna sudah berada di dalam mobil Ayah Varo. Ia duduk di kursi tengah sementara Varo di depan bersama sang Ayah.</p>

<p>“Om Jeff, Anna mau nanya, boleh?” Anna membuka suara.</p>

<p>“Kenapa, Anna?” Ayah Varo sedikit menoleh ke belakang.</p>

<p>“Kalau misal ada duda atau janda menikah, urus surat pernikahannya harus ada saksi ngga sih?”</p>

<p>Kini bukan Ayah Varo saja yang menoleh, tapi juga Varo. Keduanya keheranan dengan pertanyaan Anna.</p>



<p>“Engga kok, yang harus ada saksi hanya ketika mereka akan ijab qabul aja.” Jawab Ayah Varo, “Memangnya siapa yang mau nikah?”</p>

<p>Anna menyandarkan punggungnya ke kursi, “Kayaknya Bunda sama Papanya Hegar.”</p>

<p>“Hah?” Varo dan Ayahnya sama-sama terkejut.</p>

<p>Gadis itu melirik ke kanan dan kiriㅡke Varo dan Ayahnya secara bergantian, “Mereka tadi pergi bareng tanpa kasih tau aku, kayaknya… mereka akan nikah deh, Om.”</p>

<p>Ayah Varo tertawa kecil, “Memang kalau mereka menikah kenapa? Kayaknya Anna ngga suka?”</p>

<p>“Suka sama Hegar kali dia, Yah.” Celetuk Varo.</p>

<p>“IH APAAN??!!” Anna bangkit dan memukul pundak kanan Varo.</p>

<p>“Aduh!” Ringis Varo, “Kok ngamuk?” protesnya.</p>

<p>Anna terdiam, karena celetukan Varo membuatnya bete seketika. Akhirnya sepanjang perjalanan, ia hanya diam. Bahkan ketika ia mampir untuk makan dengan sepasang Ayah dan Anak itu, lebih banyak diam.</p>

<hr/>

<p>Anna sudah sampai rumah, sementara Varo dan Ayahnya langsung pamit dan kembali pulang. Kaki gadis itu melangkah masuk ke dalam rumah, lalu ia menjumpai tamu yang tengah berbincang seru dengan Bunda di meja makan.</p>

<p><em>Sepertinya mereka baru akan memulainya.</em></p>

<p>“Eh, pas banget anak Bunda pulang. Makan dulu yuk, nak?” ajak Bunda.</p>

<p>“Anna udah makan sama Varo dan Om Jeffan, Bun.” Jawab Anna.</p>

<p>“Oh, gitu.” Sesal Bunda.</p>

<p>“Anna langsung masuk ke kamar aja, ya, Bun.” Anna hendak beranjak, namun ditahan Bunda.</p>

<p>“Anak Bunda sakit, ya? Kok lesu gini?”</p>

<p>Anna tersenyum kecil, “Engga kok, Bun. Cuma capek sedikit aja abis kuliah seharian. Hehehe.”</p>

<p>“Ngga apa-apa Anna biar istirahat aja, Sell.” Ujar Papa Hegar pada Bunda Anna, Sella.</p>

<p>“Ya sudah, Anna istirahat aja. Jangan lupa mandi ya, nak.” Bunda mengusap kepala Anna.</p>

<p>“Iya, Bunda.” Jawabnya, “Om Tian, Hegar! Anna ke kamar dulu, ya.” Kemudian ia masuk ke dalam kamar.</p>

<hr/>

<p>@makaroon99</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://makaroon99.writeas.com/anna-and-the-evening</guid>
      <pubDate>Mon, 28 Feb 2022 02:04:53 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>That Night</title>
      <link>https://makaroon99.writeas.com/that-night?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Kaki yang terbalut sendal berbulu itu melangkah menuju tempat yang hanya berjarak sekitar 6 meter dari tempatnya berasal.&#xA;&#xA;Kurang dari 30 detik, langkah itu berhenti di bawah bangunan tanpa lampu depan yang menerangi. Tangan kurus sang empunya terangkat, menekan bel yang tersembunyi di balik tanaman yang diletakkan di dinding samping pintu.&#xA;&#xA;Tidak lama, sang pemilik rumah membuka pintu.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;&#34;Ada apa, Ann?&#34; tanya orang itu. Hegar.&#xA;&#xA;Dengan raut wajah kesal dan merah, Anna mendorong dada Hegar. Tidak kencang, tapi tetap saja membuat laki-laki itu terkejut karena perlakuan si gadis yang tiba-tiba.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa lo ngga bilang sih, Gar?!&#34; Tanya Anna.&#xA;&#xA;&#34;Bilang apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bunda sama Papa lo! Kenapa ngga bilang kalau cinta pertama Papa lo itu Bunda? Kenapa ngga bilang kalau wanita malang yang dipermainkan sama orangtuanya Fey itu Bunda?&#34; marah Anna sambil memukul lengan Hegar.&#xA;&#xA;&#34;Hei, sabar dulu, Anna.&#34; Hegar menahan tangan Anna.&#xA;&#xA;&#34;Gimana gue mau sabar kalau ternyata selama ini BundaㅡB-bunda ngerasain hal sepahit itu? Huaaa….&#34; Air mata Anna kembali tumpah mengingat kisah masa lalu yang menyakitkan itu.&#xA;&#xA;&#34;Ssttt, iya, maaf. Maaf, gue salah ngga cerita.&#34; Ucap Hegar pelan.&#xA;&#xA;Tiba-tiba kepala Anna terantuk ke dada Hegar, tapi laki-laki itu hanya diam.&#xA;&#xA;&#34;Hiks… kenapa Bunda yang baik gitu dijahatin? Huaaa… Bunda gue, Hegar….&#34; Isak Anna.&#xA;&#xA;Tangan Hegar terangkat menyentuh punggung Anna, lalu mengusapnya pelan. Hingga ia sendiri tidak sadar kalau usapan itu membuat keduanya menjadi tidak berjarak.&#xA;&#xA;&#34;B-berarti kalau gitu Papa lo sama Bunda gue, hiks… eungg… Papa lo sama Bunda nantinya nikah, dong? Hnggg….&#34; Ucap Anna sambil menangis sesegukkan hingga membuat Hegar menghentikan usapannya.&#xA;&#xA;&#34;Emang kenapa kalau mereka nikah?&#34; tanya Hegar.&#xA;&#xA;Anna menarik kepalanya sedikit, namun ia kembali menempelkannya pada dada Hegar, &#34;N-nanti kita jadi adik-kakak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa emangnya, hm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hngg… ng-ngga apa-apa.&#34; Jawab Anna.&#xA;&#xA;Tadinya Hegar ingin mememberi jarak kembali dengan Anna, namun tangan gadis itu mencengkram kedua sisi kaosnya sehingga ia tidak bisa bergerak.&#xA;&#xA;&#34;Anna?&#34; panggilnya pelan.&#xA;&#xA;&#34;Eung?&#34;&#xA;&#xA;Hegar hanya menghela napas, mengurungkan niatnya untuk bicara pada Anna.&#xA;&#xA;&#34;Gar?&#34; kini gantian Anna yang memanggil laki-laki itu.&#xA;&#xA;&#34;Iya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;B-boleh lepas baju lo ngga?&#34; tanya Anna masih dengan posisinya.&#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Boleh, ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mau ngapain?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gar, please?&#34;&#xA;&#xA;&#34;O-oke, tapi lo-nya awas dulㅡANN??&#34;&#xA;&#xA;Siapa sangka bahwa Anna tiba-tiba menarik kaos Hegar ke atas dengan sangat kencang dan cepat. Setelah berhasil melepas kaos itu, Anna langsung berlari menuju rumahnya tanpa sepatah-katapun.&#xA;&#xA;Sementara Hegar yang sudah tidak memakai atasan masih menatap heran dengan apa yang dilakukan gadis itu. &#xA;&#xA;Yang ia rasakan saat ini adalah seperti baru saja dirampok.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;@makaroon99&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Kaki yang terbalut sendal berbulu itu melangkah menuju tempat yang hanya berjarak sekitar 6 meter dari tempatnya berasal.</p>

<p>Kurang dari 30 detik, langkah itu berhenti di bawah bangunan tanpa lampu depan yang menerangi. Tangan kurus sang empunya terangkat, menekan bel yang tersembunyi di balik tanaman yang diletakkan di dinding samping pintu.</p>

<p>Tidak lama, sang pemilik rumah membuka pintu.</p>



<p>“Ada apa, Ann?” tanya orang itu. Hegar.</p>

<p>Dengan raut wajah kesal dan merah, Anna mendorong dada Hegar. Tidak kencang, tapi tetap saja membuat laki-laki itu terkejut karena perlakuan si gadis yang tiba-tiba.</p>

<p>“Kenapa lo ngga bilang sih, Gar?!” Tanya Anna.</p>

<p>“Bilang apa?”</p>

<p>“Bunda sama Papa lo! Kenapa ngga bilang kalau cinta pertama Papa lo itu Bunda? Kenapa ngga bilang kalau wanita malang yang dipermainkan sama orangtuanya Fey itu Bunda?” marah Anna sambil memukul lengan Hegar.</p>

<p>“Hei, sabar dulu, Anna.” Hegar menahan tangan Anna.</p>

<p>“Gimana gue mau sabar kalau ternyata selama ini BundaㅡB-bunda ngerasain hal sepahit itu? Huaaa….” Air mata Anna kembali tumpah mengingat kisah masa lalu yang menyakitkan itu.</p>

<p>“Ssttt, iya, maaf. Maaf, gue salah ngga cerita.” Ucap Hegar pelan.</p>

<p>Tiba-tiba kepala Anna terantuk ke dada Hegar, tapi laki-laki itu hanya diam.</p>

<p>“Hiks… kenapa Bunda yang baik gitu dijahatin? Huaaa… Bunda gue, Hegar….” Isak Anna.</p>

<p>Tangan Hegar terangkat menyentuh punggung Anna, lalu mengusapnya pelan. Hingga ia sendiri tidak sadar kalau usapan itu membuat keduanya menjadi tidak berjarak.</p>

<p>“B-berarti kalau gitu Papa lo sama Bunda gue, hiks… eungg… Papa lo sama Bunda nantinya nikah, dong? Hnggg….” Ucap Anna sambil menangis sesegukkan hingga membuat Hegar menghentikan usapannya.</p>

<p>“Emang kenapa kalau mereka nikah?” tanya Hegar.</p>

<p>Anna menarik kepalanya sedikit, namun ia kembali menempelkannya pada dada Hegar, “N-nanti kita jadi adik-kakak?”</p>

<p>“Kenapa emangnya, hm?”</p>

<p>“Hngg… ng-ngga apa-apa.” Jawab Anna.</p>

<p>Tadinya Hegar ingin mememberi jarak kembali dengan Anna, namun tangan gadis itu mencengkram kedua sisi kaosnya sehingga ia tidak bisa bergerak.</p>

<p>“Anna?” panggilnya pelan.</p>

<p>“Eung?”</p>

<p>Hegar hanya menghela napas, mengurungkan niatnya untuk bicara pada Anna.</p>

<p>“Gar?” kini gantian Anna yang memanggil laki-laki itu.</p>

<p>“Iya?”</p>

<p>“B-boleh lepas baju lo ngga?” tanya Anna masih dengan posisinya.</p>

<p>“Hah?”</p>

<p>“Boleh, ya?”</p>

<p>“Mau ngapain?”</p>

<p>“Gar, please?”</p>

<p>“O-oke, tapi lo-nya awas dulㅡANN??”</p>

<p>Siapa sangka bahwa Anna tiba-tiba menarik kaos Hegar ke atas dengan sangat kencang dan cepat. Setelah berhasil melepas kaos itu, Anna langsung berlari menuju rumahnya tanpa sepatah-katapun.</p>

<p>Sementara Hegar yang sudah tidak memakai atasan masih menatap heran dengan apa yang dilakukan gadis itu.</p>

<p>Yang ia rasakan saat ini adalah seperti baru saja dirampok.</p>

<hr/>

<p>@makaroon99</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://makaroon99.writeas.com/that-night</guid>
      <pubDate>Sat, 26 Feb 2022 14:02:47 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Hegar and His Story</title>
      <link>https://makaroon99.writeas.com/hegar-and-his-story?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Kini Anna duduk di kursi teras rumahnya bersama Hegar. Keduanya nampak canggung, tidak seperti biasanya. Sebenarnya, Hegar sudah ingin membuka suara, tapi Anna masih nampak terlihat tidak nyaman.&#xA;&#xA;“Ann, gue udah boleh jelasin?” tanya Hegar.&#xA;&#xA;Anna melirik Hegar lalu menggedikkan bahunya. Hegar kembali diam hingga beberapa saat, sampai ia sendiri yang tidak sabar untuk menjelaskan semuanya pada Anna.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;“Ann—“&#xA;&#xA;“Tadi Varo bilang katanya itu bukan lo,” potong Anna.&#xA;&#xA;“Y-ya?”&#xA;&#xA;“Cuma itu aja yang Varo kasih tau, dia belum bisa ngomong banyak.”&#xA;&#xA;Hegar mengangguk dan menghembuskan napas lega, “Memang bukan gue. Itu Fey.”&#xA;&#xA;Anna mengeryit, “Kok Fey? Dia ‘kan juga korban.”&#xA;&#xA;&#34;Gue masih punya bukti pesan terakhir yang dia kirim. Ini bakal gue jadikan barang bukti.&#34; Hegar memberikan ponselnya pada Anna yang menampilkan pesan dari Fey dan Varo sabtu lalu.&#xA;&#xA;&#34;Fey… demi apa?!&#34; Anna tidak percaya.&#xA;&#xA;Kini Hegar mengangguk, “Dia pelaku yang sesungguhnya, dan apa yang lo dengar dari dia ngga ada yang benar, Ann.”&#xA;&#xA;“Maksudnya?”&#xA;&#xA;“Cerita yang tempo hari Fey ceritain ke lo itu palsu, bukan cerita yang sebenarnya terjadi.”&#xA;&#xA;“...”&#xA;&#xA;“Fey dibodohi sama Mamanya yang punya dendam ke bokap gue. Gue udah bicara sama dia sabtu lalu tentang itu, tapi dia ngga percaya, bahkan gue suruh dia tes DNA sekalian. Dan gue ngga tau apa yang terjadi ketika dia pulang ke rumah, dia malah ke rumah lo dan bikin kita berantem.”&#xA;&#xA;“Tentang dia dipukul—“&#xA;&#xA;“Mungkin ulah Mamanya?” tebak Hegar.&#xA;&#xA;Anna terdiam untuk beberapa saat, masih sedikit tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Padahal, Hegar belum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga itu.&#xA;&#xA;“Gue boleh cerita yang sempat gue bilang ‘nanti’ ke lo?” tanya Hegar.&#xA;&#xA;Gadis itu menatap Hegar penasaran, kemudian ia mengangguk. &#xA;&#xA;“Waktu SMA, Mama Fey naksir Papa.” Hegar memulai ceritanya.&#xA;&#xA;“Naksir?”&#xA;&#xA;Hegar mengangguk, “Tepatnya naksir berat. Dia selalu ngirim surat dan hadiah untuk Papa. Awalnya Papa respon untuk menghargai aja, tapi lama kelamaan Papa ngerasa risih. Papa minta dia untuk berhenti, tapi ngga pernah didengar. Bahkan sampai Papa akhirnya punya pacar, baru dia berhenti. Itu juga dua tahun kemudian, tepatnya waktu Papa jadian sama cinta pertamanya yang merupakan adik kelasnya.”&#xA;&#xA;“Wow!” respon Anna. Laki-laki itu kemudian melanjutkan ceritanya.&#xA;&#xA;Ketika Papa Hegar masuk universitas, Mama Fey mengikuti pria itu. Bahkan ketika Papa Hegar ikut organisasi kampus, wanita itu juga mengikutinya. Mama Fey seakan tidak putus asa untuk mendekati Papa Hegar. Yah bisa dibilang, wanita itu terobsesi pada Papa Hegar.&#xA;&#xA;Hingga setahun kemudian, kekasih Papa Hegar masuk ke Universitas yang sama. Keduanya kerap terlihat bersama bahkan digadang sebagai pasangan termanis di kampus saat itu. Hal itu jelas membuat hati wanita itu semakin panas. Padahal ia sendiri juga dikejar-kejar oleh seorang pria idola kampus, tapi hatinya hanya untuk Papa Hegar seorang.&#xA;&#xA;Bertahun-tahun berlalu tepatnya ketika sang wanita wisuda, hubungan manis Papa Hegar dengan kekasihnya terancam karena wanita itu rupanya telah dijodohkan oleh seorang pria lainnya. Kata sang Ibu—single parent, agar perusahaan yang akan jatuh ke tangan wanita itu tidak diurus sendiri, melainkan dengan suami yang mengerti dengan bisnis juga. Dia adalah pria yang mengejar Mama Fey itu.&#xA;&#xA;Wanita malang itu tidak bisa menolak, dan ia juga tidak bohong jika tidak menginginkan pria itu. Papa Hegar juga sempat berusaha untuk menggagalkan perjodohan itu dan meyakinkan orangtua dari kekasihnya itu, tapi usahanya sia-sia. Hingga akhirnya Papa Hegar harus merelakan wanitanya.&#xA;&#xA;Adanya kejadian itu tentu membuat Mama Fey semakin gencar mendekati Papa Hegar. Tapi, Papa Hegar bukan seseorang yang mudah terpengaruh. Bahkan sampai 3 tahun pernikahan mantan kekasihnya itu, Papa Hegar baru bisa mengikhlaskan semuanya. Ia pun menikah dengan wanita lain, Mama Hegar.&#xA;&#xA;Mama Fey yang merasa dunia tidak berpihak padanya sebanyak 2 kali akhirnya menyerah. Bukan menyerah dalam artian mengikhlaskan Papa Hegar dengan wanita lain, namun perasaan dendam yang kemudian muncul hingga membuat hidup seseorang berubah.&#xA;&#xA;Bukan kepada Papa Hegar langsung Mama Fey membalas dendam, tapi pada mantan kekasih pria itu. Ia kembali menggoda pria yang waktu itu mengejarnya—suami dari mantan kekasih Papa Hegar, yang rupanya juga masih memiliki perasaan untuknya.&#xA;&#xA;Entah bagaimana bisa, Mama Fey menghasut pria itu hingga terjadilah malam panjang. Dan brengseknya, Mama Fey sampai hamil oleh pria itu. Sementara beberapa minggu usai Mama Fey mengatakan bahwa ia hamil, istri pria itu juga mengungkap hal yang sama, padahal sebelumnya ia tidak ingin memiliki anak jika pria itu belum bisa mencintainya sepenuhnya.&#xA;&#xA;Namun, pria itu berlagak seakan tidak ada yang terjadi. Perselingkuhan. Ia main cukup apik bahkan bolak-balik menginap di rumah Mama Fey. Tapi sayangnya, istrinya itu tahu ketika usia kandungannya masuk usia 8 bulan. Belum lagi kemudian ia kehilangan Ibunya yang kena serangan jantung usai mengetahui menantunya selingkuh dan menghamili wanita lain. Tentu saja itu membuatnya stress hingga hampir membahayakan nyawa anak dalam kandungannya.&#xA;&#xA;Ingat perusahaan yang dikelola wanita itu dan suaminya? Sang suami dengan licik—usai diperdaya Mama Fey— mengambil alih perusahaan, mencuri tanda tangan sang istri yang saat itu mentalnya masih terguncang. Hingga setelah melahirkan, ia diceraikan dan jatuh miskin.&#xA;&#xA;Tapi untungnya, Papa Hegar yang sempat hilang kontak itu mengetahui keadaan sang mantan kekasih. Dan beruntungnya, Mama Hegar dengan senang hati mau membantu wanita itu. Ia membantu mengurus anak itu sampai usia 1 tahun padahal ia juga memiliki anak, sementara wanita itu melakukan pengobatan untuk dirinya agar bisa mengurus anaknya kembali.&#xA;&#xA;Setelah sembuh dan merasa ia sanggup mengurus anak, ia pergi meninggalkan Papa Hegar dan istrinya. Ia pergi jauh bahkan sampai belasan tahun kemudian. Papa Hegar berharap banyak kalau mantan wanitanya itu bisa hidup jauh lebih baik bersama anaknya.&#xA;&#xA;Lalu bagaimana dengan Mama Fey dan sebut saja Papa Fey? Mereka tentu hidup bahagia bergelimang harta. Yah walau sebenarnya cukup sulit bagi Mama Fey untuk membuka hati untuk suaminya, sampai ia harus berpura-pura cinta hingga beberapa tahun pernikahan mereka.&#xA;&#xA;Dan ketika anak mereka duduk di bangku SMA, Mama Fey bertemu kembali dengan Papa Hegar serta mengetahui siapa anak pria itu. Dan rasa dendamnya kembali muncul karena sebelumnya ia hanya membalasnya pada sang wanita Papa Hegar.&#xA;&#xA;Hingga akhirnya terjadilah drama yang dibuat Mama Fey dan anak semata wayangnya. Dan tentu dengan otak liciknya, Mama Fey tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya pada sang anak. Ia kembali mengarang cerita seakan ia di sini adalah wanita yang paling tersakiti.&#xA;&#xA;Dan anak mana yang tega melihat sang Mama tersakiti? Hal itu pun membuat Fey akhirnya ikut melancarkan aksi balas dendam sang Mama, walau ia sempat menyukai Hegar yang ‘katanya’ adalah saudaranya sendiri.&#xA;&#xA;Kembali ke situasi sekarang, Anna berulang kali menghembuskan napasnya tidak percaya dengan cerita yang diceritakan Hegar. Bukan sekadar cerita, tapi juga fakta.&#xA;&#xA;“Gue kira orang sejahat itu cuma ada di drama,” komentar Anna.&#xA;&#xA;“Semua karena cinta, Anna.”&#xA;&#xA;“Tapi... sumpah demi apapun mereka jahat banget.”&#xA;&#xA;Hegar hanya mengangguk menanggapi ucapan Anna.&#xA;&#xA;“Udah ngancurin rumah tangga orang, diambil pula hartanya? Sinting.”&#xA;&#xA;Lagi, Hegar mengangguk untuk menanggapi ucapan gadis itu.&#xA;&#xA;“Terus sekarang gimana kabar cinta pertama bokap lo? Anaknya? Mereka baik?”&#xA;&#xA;“Baik. Bahkan sekarang Papa juga lagi berusaha untuk bongkar kejahatan mereka demi wanita itu.”&#xA;&#xA;Anna bernapas lega, “Syukurlah. Semoga mereka selalu baik-baik aja.”&#xA;&#xA;Hegar tersenyum kecil dan mengangguk, “Aamiin.”&#xA;&#xA;“Oh, terus gimana sama lo? Kenapa lo ngga lawan Fey? Kenapa lo mau-maunya diperdaya sama dia, Gar?” tanya Anna.&#xA;&#xA;“Maunya begitu, tapi gue ngga bisa.”&#xA;&#xA;Anna menatap Hegar dalam, “Kenapa?”&#xA;&#xA;“Fey punya video waktu gue mukulin orang yang mau lecehin dia dan cewek yang kebetulan lagi lewat bareng dia.” Kata Hegar.&#xA;&#xA;“Hah?”&#xA;&#xA;“Dan sialnya, orang itu meninggal setelah gue pukulin.”&#xA;&#xA;“W-wait, itu seriusan?”&#xA;&#xA;Hegar menggedikkan bahunya, “Gue juga ngga terlalu yakin karena gue inget banget kalau gue ngga ada mukul dia di area vital. Kalau cuma bonyok aja sih mungkin.”&#xA;&#xA;“Kapan waktu lo mukulin orang itu?”&#xA;&#xA;“Seminggu setelah gue ulang tahun ketujuh belas.”&#xA;&#xA;“Shit!” Umpat Anna.&#xA;&#xA;“Makanya gue ngga bisa ngelawan. Itu ancaman terbesar buat gue. Kalau itu sampai tersebar, gue bisa aja dihukum pidana. Tapi, bukan itu yang gue pikirin. Gue takut bikin Papa kecewa.”&#xA;&#xA;“Hegar...?” seketika Anna merasa bersalah pada Hegar. Nampak sekali bahwa selama ini Hegar terpuruk dan tidak bahagia.&#xA;&#xA;“Tapi, ada yang lebih penting dari masalah gue.”&#xA;&#xA;Anna mengeryit, “Apa?”&#xA;&#xA;“Fey.”&#xA;&#xA;“Kenapa?”&#xA;&#xA;“Tolong tetap ada di sisi dia dulu,”&#xA;&#xA;“Hah? Ngapain? Ogah banget!”&#xA;&#xA;“Cuma sampai urusan Papa gue selesai, Ann. Buat seakan lo ngga tau apa-apa, buat dia tenang dan nyaman sama lo, buat dia seakan menang atas rencananya menghancurkan gue.”&#xA;&#xA;“T-tapi—“&#xA;&#xA;“Gue janji lo ngga akan baik-baik aja.” Hegar menyentuh tangan Anna.&#xA;&#xA;“Varo gimana?”&#xA;&#xA;Alis Hegar yang semula sedikit terangkat, kini turun kembali. “Gue jamin juga keselamatannya. Ngga usah khawatir.” Ucapnya.&#xA;&#xA;Anna mengulum senyumnya, dan kemudian ia mengangguk.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;@makaroon99]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Kini Anna duduk di kursi teras rumahnya bersama Hegar. Keduanya nampak canggung, tidak seperti biasanya. Sebenarnya, Hegar sudah ingin membuka suara, tapi Anna masih nampak terlihat tidak nyaman.</p>

<p>“Ann, gue udah boleh jelasin?” tanya Hegar.</p>

<p>Anna melirik Hegar lalu menggedikkan bahunya. Hegar kembali diam hingga beberapa saat, sampai ia sendiri yang tidak sabar untuk menjelaskan semuanya pada Anna.</p>



<p>“Ann—“</p>

<p>“Tadi Varo bilang katanya itu bukan lo,” potong Anna.</p>

<p>“Y-ya?”</p>

<p>“Cuma itu aja yang Varo kasih tau, dia belum bisa ngomong banyak.”</p>

<p>Hegar mengangguk dan menghembuskan napas lega, “Memang bukan gue. Itu Fey.”</p>

<p>Anna mengeryit, “Kok Fey? Dia ‘kan juga korban.”</p>

<p>“Gue masih punya bukti pesan terakhir yang dia kirim. Ini bakal gue jadikan barang bukti.” Hegar memberikan ponselnya pada Anna yang menampilkan pesan dari Fey dan Varo sabtu lalu.</p>

<p>“Fey… demi apa?!” Anna tidak percaya.</p>

<p>Kini Hegar mengangguk, “Dia pelaku yang sesungguhnya, dan apa yang lo dengar dari dia ngga ada yang benar, Ann.”</p>

<p>“Maksudnya?”</p>

<p>“Cerita yang tempo hari Fey ceritain ke lo itu palsu, bukan cerita yang sebenarnya terjadi.”</p>

<p>“...”</p>

<p>“Fey dibodohi sama Mamanya yang punya dendam ke bokap gue. Gue udah bicara sama dia sabtu lalu tentang itu, tapi dia ngga percaya, bahkan gue suruh dia tes DNA sekalian. Dan gue ngga tau apa yang terjadi ketika dia pulang ke rumah, dia malah ke rumah lo dan bikin kita berantem.”</p>

<p>“Tentang dia dipukul—“</p>

<p>“Mungkin ulah Mamanya?” tebak Hegar.</p>

<p>Anna terdiam untuk beberapa saat, masih sedikit tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Padahal, Hegar belum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga itu.</p>

<p>“Gue boleh cerita yang sempat gue bilang ‘nanti’ ke lo?” tanya Hegar.</p>

<p>Gadis itu menatap Hegar penasaran, kemudian ia mengangguk.</p>

<p>“Waktu SMA, Mama Fey naksir Papa.” Hegar memulai ceritanya.</p>

<p>“Naksir?”</p>

<p>Hegar mengangguk, “Tepatnya naksir berat. Dia selalu ngirim surat dan hadiah untuk Papa. Awalnya Papa respon untuk menghargai aja, tapi lama kelamaan Papa ngerasa risih. Papa minta dia untuk berhenti, tapi ngga pernah didengar. Bahkan sampai Papa akhirnya punya pacar, baru dia berhenti. Itu juga dua tahun kemudian, tepatnya waktu Papa jadian sama cinta pertamanya yang merupakan adik kelasnya.”</p>

<p>“Wow!” respon Anna. Laki-laki itu kemudian melanjutkan ceritanya.</p>

<p>Ketika Papa Hegar masuk universitas, Mama Fey mengikuti pria itu. Bahkan ketika Papa Hegar ikut organisasi kampus, wanita itu juga mengikutinya. Mama Fey seakan tidak putus asa untuk mendekati Papa Hegar. Yah bisa dibilang, wanita itu terobsesi pada Papa Hegar.</p>

<p>Hingga setahun kemudian, kekasih Papa Hegar masuk ke Universitas yang sama. Keduanya kerap terlihat bersama bahkan digadang sebagai pasangan termanis di kampus saat itu. Hal itu jelas membuat hati wanita itu semakin panas. Padahal ia sendiri juga dikejar-kejar oleh seorang pria idola kampus, tapi hatinya hanya untuk Papa Hegar seorang.</p>

<p>Bertahun-tahun berlalu tepatnya ketika sang wanita wisuda, hubungan manis Papa Hegar dengan kekasihnya terancam karena wanita itu rupanya telah dijodohkan oleh seorang pria lainnya. Kata sang Ibu—single parent, agar perusahaan yang akan jatuh ke tangan wanita itu tidak diurus sendiri, melainkan dengan suami yang mengerti dengan bisnis juga. Dia adalah pria yang mengejar Mama Fey itu.</p>

<p>Wanita malang itu tidak bisa menolak, dan ia juga tidak bohong jika tidak menginginkan pria itu. Papa Hegar juga sempat berusaha untuk menggagalkan perjodohan itu dan meyakinkan orangtua dari kekasihnya itu, tapi usahanya sia-sia. Hingga akhirnya Papa Hegar harus merelakan wanitanya.</p>

<p>Adanya kejadian itu tentu membuat Mama Fey semakin gencar mendekati Papa Hegar. Tapi, Papa Hegar bukan seseorang yang mudah terpengaruh. Bahkan sampai 3 tahun pernikahan mantan kekasihnya itu, Papa Hegar baru bisa mengikhlaskan semuanya. Ia pun menikah dengan wanita lain, Mama Hegar.</p>

<p>Mama Fey yang merasa dunia tidak berpihak padanya sebanyak 2 kali akhirnya menyerah. Bukan menyerah dalam artian mengikhlaskan Papa Hegar dengan wanita lain, namun perasaan dendam yang kemudian muncul hingga membuat hidup seseorang berubah.</p>

<p>Bukan kepada Papa Hegar langsung Mama Fey membalas dendam, tapi pada mantan kekasih pria itu. Ia kembali menggoda pria yang waktu itu mengejarnya—suami dari mantan kekasih Papa Hegar, yang rupanya juga masih memiliki perasaan untuknya.</p>

<p>Entah bagaimana bisa, Mama Fey menghasut pria itu hingga terjadilah malam panjang. Dan brengseknya, Mama Fey sampai hamil oleh pria itu. Sementara beberapa minggu usai Mama Fey mengatakan bahwa ia hamil, istri pria itu juga mengungkap hal yang sama, padahal sebelumnya ia tidak ingin memiliki anak jika pria itu belum bisa mencintainya sepenuhnya.</p>

<p>Namun, pria itu berlagak seakan tidak ada yang terjadi. Perselingkuhan. Ia main cukup apik bahkan bolak-balik menginap di rumah Mama Fey. Tapi sayangnya, istrinya itu tahu ketika usia kandungannya masuk usia 8 bulan. Belum lagi kemudian ia kehilangan Ibunya yang kena serangan jantung usai mengetahui menantunya selingkuh dan menghamili wanita lain. Tentu saja itu membuatnya stress hingga hampir membahayakan nyawa anak dalam kandungannya.</p>

<p>Ingat perusahaan yang dikelola wanita itu dan suaminya? Sang suami dengan licik—usai diperdaya Mama Fey— mengambil alih perusahaan, mencuri tanda tangan sang istri yang saat itu mentalnya masih terguncang. Hingga setelah melahirkan, ia diceraikan dan jatuh miskin.</p>

<p>Tapi untungnya, Papa Hegar yang sempat hilang kontak itu mengetahui keadaan sang mantan kekasih. Dan beruntungnya, Mama Hegar dengan senang hati mau membantu wanita itu. Ia membantu mengurus anak itu sampai usia 1 tahun padahal ia juga memiliki anak, sementara wanita itu melakukan pengobatan untuk dirinya agar bisa mengurus anaknya kembali.</p>

<p>Setelah sembuh dan merasa ia sanggup mengurus anak, ia pergi meninggalkan Papa Hegar dan istrinya. Ia pergi jauh bahkan sampai belasan tahun kemudian. Papa Hegar berharap banyak kalau mantan wanitanya itu bisa hidup jauh lebih baik bersama anaknya.</p>

<p>Lalu bagaimana dengan Mama Fey dan sebut saja Papa Fey? Mereka tentu hidup bahagia bergelimang harta. Yah walau sebenarnya cukup sulit bagi Mama Fey untuk membuka hati untuk suaminya, sampai ia harus berpura-pura cinta hingga beberapa tahun pernikahan mereka.</p>

<p>Dan ketika anak mereka duduk di bangku SMA, Mama Fey bertemu kembali dengan Papa Hegar serta mengetahui siapa anak pria itu. Dan rasa dendamnya kembali muncul karena sebelumnya ia hanya membalasnya pada sang wanita Papa Hegar.</p>

<p>Hingga akhirnya terjadilah drama yang dibuat Mama Fey dan anak semata wayangnya. Dan tentu dengan otak liciknya, Mama Fey tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya pada sang anak. Ia kembali mengarang cerita seakan ia di sini adalah wanita yang paling tersakiti.</p>

<p>Dan anak mana yang tega melihat sang Mama tersakiti? Hal itu pun membuat Fey akhirnya ikut melancarkan aksi balas dendam sang Mama, walau ia sempat menyukai Hegar yang ‘katanya’ adalah saudaranya sendiri.</p>

<p>Kembali ke situasi sekarang, Anna berulang kali menghembuskan napasnya tidak percaya dengan cerita yang diceritakan Hegar. Bukan sekadar cerita, tapi juga fakta.</p>

<p>“Gue kira orang sejahat itu cuma ada di drama,” komentar Anna.</p>

<p>“Semua karena cinta, Anna.”</p>

<p>“Tapi... sumpah demi apapun mereka jahat banget.”</p>

<p>Hegar hanya mengangguk menanggapi ucapan Anna.</p>

<p>“Udah ngancurin rumah tangga orang, diambil pula hartanya? Sinting.”</p>

<p>Lagi, Hegar mengangguk untuk menanggapi ucapan gadis itu.</p>

<p>“Terus sekarang gimana kabar cinta pertama bokap lo? Anaknya? Mereka baik?”</p>

<p>“Baik. Bahkan sekarang Papa juga lagi berusaha untuk bongkar kejahatan mereka demi wanita itu.”</p>

<p>Anna bernapas lega, “Syukurlah. Semoga mereka selalu baik-baik aja.”</p>

<p>Hegar tersenyum kecil dan mengangguk, “Aamiin.”</p>

<p>“Oh, terus gimana sama lo? Kenapa lo ngga lawan Fey? Kenapa lo mau-maunya diperdaya sama dia, Gar?” tanya Anna.</p>

<p>“Maunya begitu, tapi gue ngga bisa.”</p>

<p>Anna menatap Hegar dalam, “Kenapa?”</p>

<p>“Fey punya video waktu gue mukulin orang yang mau lecehin dia dan cewek yang kebetulan lagi lewat bareng dia.” Kata Hegar.</p>

<p>“Hah?”</p>

<p>“Dan sialnya, orang itu meninggal setelah gue pukulin.”</p>

<p>“W-wait, itu seriusan?”</p>

<p>Hegar menggedikkan bahunya, “Gue juga ngga terlalu yakin karena gue inget banget kalau gue ngga ada mukul dia di area vital. Kalau cuma bonyok aja sih mungkin.”</p>

<p>“Kapan waktu lo mukulin orang itu?”</p>

<p>“Seminggu setelah gue ulang tahun ketujuh belas.”</p>

<p>“Shit!” Umpat Anna.</p>

<p>“Makanya gue ngga bisa ngelawan. Itu ancaman terbesar buat gue. Kalau itu sampai tersebar, gue bisa aja dihukum pidana. Tapi, bukan itu yang gue pikirin. Gue takut bikin Papa kecewa.”</p>

<p>“Hegar...?” seketika Anna merasa bersalah pada Hegar. Nampak sekali bahwa selama ini Hegar terpuruk dan tidak bahagia.</p>

<p>“Tapi, ada yang lebih penting dari masalah gue.”</p>

<p>Anna mengeryit, “Apa?”</p>

<p>“Fey.”</p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p>“Tolong tetap ada di sisi dia dulu,”</p>

<p>“Hah? Ngapain? Ogah banget!”</p>

<p>“Cuma sampai urusan Papa gue selesai, Ann. Buat seakan lo ngga tau apa-apa, buat dia tenang dan nyaman sama lo, buat dia seakan menang atas rencananya menghancurkan gue.”</p>

<p>“T-tapi—“</p>

<p>“Gue janji lo ngga akan baik-baik aja.” Hegar menyentuh tangan Anna.</p>

<p>“Varo gimana?”</p>

<p>Alis Hegar yang semula sedikit terangkat, kini turun kembali. “Gue jamin juga keselamatannya. Ngga usah khawatir.” Ucapnya.</p>

<p>Anna mengulum senyumnya, dan kemudian ia mengangguk.</p>

<hr/>

<p>@makaroon99</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://makaroon99.writeas.com/hegar-and-his-story</guid>
      <pubDate>Fri, 25 Feb 2022 01:59:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Fey and Her Story</title>
      <link>https://makaroon99.writeas.com/fey-and-her-story?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Merasa ada yang ganjil ketika Fey menghubunginya tadi, Anna dengan cepat langsung menelepon gadis itu balik. Ia ingin memastikan apa yang tadi Fey bicarakan tidak salah.&#xA;&#xA;Cukup lama ia menunggu, akhirnya ia mendapat jawaban dari Fey. Dengan cepat, Anna langsung memesan ojek online untuk pergi ke rumah sakit di mana Fey dan Varo dibawa.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;30 menit kemudian, Anna sampai di rumah sakit. Varo masih di dalam UGD, baru selesai diberi penanganan pertama, sementara Fey sudah lebih dulu boleh keluar karena luka yang ia dapat hanya luka kecil akibat jatuh dari motor.&#xA;&#xA;Anna menangis begitu melihat wajah tampan Varo yang sudah tidak nampak. Hidung dan tulang rahangnya terbungkus perban putih, luka di pelipis dan robek di bagian bibir, serta tangan yang di gips. Luka yang didapat Varo cukup parah mengingat 2 orang tadi menghajarnya tanpa ampun.&#xA;&#xA;Sakit sekali hati Anna melihat Varo seperti ini. Rasanya ia ingin marah, tapi tidak tahu harus marah pada siapa. Jika saja pelaku yang menghajar Varo ada di hadapannya sekarang, mungkin sudah ia lempar wajah orang itu dengan pot keramik.&#xA;&#xA;“Anna?”&#xA;&#xA;Gadis itu menoleh ketika seseorang memanggilnya, “Om Jeffan?”&#xA;&#xA;“Gimana Varo?” beliau adalah Ayah Varo.&#xA;&#xA;Anna hanya melirik Varo yang masih belum sadarkan diri, Ayah Varo menepuk-nepuk pundak Anna. Kemudian ia mendekati sang anak dan mengusap lembut kepala Varo. Anna sendiri kemudian pamit keluar untuk menemui Fey.&#xA;&#xA;Perempuan itu masih menangis walau sudah tidak ada lagi air mata yang keluar. Yang dapat Anna lihat, Fey masih terlihat syok. Ia pun duduk di sebelah Fey dan menyentuh pundak temannya itu.&#xA;&#xA;“Fey?” panggilnya pelan.&#xA;&#xA;“Anna, maaf.” Lirih Fey.&#xA;&#xA;“...” Sejujurnya Anna bukanlah orang yang pandai menenangkan seseorang yang menangis.&#xA;&#xA;“Harusnya tadi gue sama Varo langsung pulang, harusnya tadi kami ngga perlu mampir, jadi... jadi Varo ngga celaka.” Isak Fey.&#xA;&#xA;“Lo udah minum?” Anna mengalihkan pembicaraan sejenak.&#xA;&#xA;Fey menggeleng, Anna kemudian beranjak untuk membeli minum yang ada di vending machine di lobby rumah sakit.&#xA;&#xA;Sebelum ia kembali setelah mendapatkan sebotol air mineral, ia membuka ponselnya. Ia bertukar pesan dengan seseorang. Tidak lama, hanya sekitar 2 menit, lalu ia masukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan kembali menemui Fey.&#xA;&#xA;“Minum dulu,” Anna memberikan sebotol air itu pada Fey. Gadis itu pun langsung meminumnya hingga tersisa setengah.&#xA;&#xA;Untuk beberapa saat, keduanya saling terdiam. Tidak ada hal yang ingin Anna tanyakan atau bicarakan, karena fokusnya saat ini hanya Varo yang masih terbaring lemah tak sadarkan diri di dalam.&#xA;&#xA;“Ann?” panggil Fey.&#xA;&#xA;Gadis manis itu menoleh, “Iya?”&#xA;&#xA;“Maaf kalau selama ini gue udah bohong,”&#xA;&#xA;Anna mengeryitkan keningnya sambil menatap Fey yang menunduk.&#xA;&#xA;“S-sebenernya gue sama Hegar ngga pacaran,”&#xA;&#xA;“H-hah?”&#xA;&#xA;“Gue sama Hegar itu sebenarnya saudara satu Ayah.”&#xA;&#xA;“M-maksudnya, kalian adik-kakak?”&#xA;&#xA;Fey mengangguk, “Tapi Hegar ngga pernah mau mengakui itu.”&#xA;&#xA;“...” Anna terdiam, ia berusaha untuk mendengarkan cerita Fey.&#xA;&#xA;“Waktu Mama masih muda, Mama dideketin sama Papanya Hegar, padahal waktu itu posisinya mereka udah sama-sama menikah. Sampai suatu hari, Papa Hegar raped my Mom, Ann.” Fey meremat ujung cardigan yang ia kenakan, lalu kembali menceritakan apa yang ia tahu dari sang Mama.&#xA;&#xA;Tentang Papa Hegar yang tidak mau bertanggung jawab sama sekali, memutus seluruh kontak keduanya yang ada. Tidak hanya itu, Papa Hegar yang merupakan seorang pengusaha juga sempat menjatuhkan perusahaan orangtuanya.&#xA;&#xA;Hal itu juga hampir membuat Mama dan Papa Fey bercerai karena dorongan orangtua yang tidak setuju atas kehamilan Mamanya oleh pria lain. Tapi, Papa Fey yang menyayangi Mama, berusaha mempertahankan pernikahan itu.&#xA;&#xA;“Dan gue ngga tau kalau Hegar ternyata terobsesi sama gue dan dia ngga mau anggap gue saudaranya, dia selalu bilang kalau kami pacaran, maka dari itu terjadilah hubungan toxic ini, Ann. Dan dia ngga izinin gue untuk bilang fakta ini ke siapapun.” Tambah Fey sambil menangis.&#xA;&#xA;Bagaimana reaksi Anna? Tentu sangat terkejut. Mengetahui Fey dan Hegar adik-kakak saja sudah membuat otaknya tidak berfungsi dengan baik, ditambah masa lalu yang dialami Mama Fey.&#xA;&#xA;Namun Anna tidak langsung menelan semuanya mentah-mentah. Sekelibat pernyataan Hegar yang mengatakan bahwa ia dan Fey tidak berpacaran, terlintas di kepalanya. Bahkan belum ada seminggu Hegar mengatakannya.&#xA;&#xA;&#34;Tapi, Fey—&#34;&#xA;&#xA;“Felicia!”&#xA;&#xA;“Papa!!”&#xA;&#xA;Belum sempat Anna bertanya, Papa Fey datang. Fey  pun langsung berlari dan berhambur ke dalam pelukan sang Papa, sementara Anna hanya bisa berdiri dan memperhatikan interaksi sepasang Ayah dan anak itu. Hingga tatapannya bertemu langsung dengan Papa Fey, sontak Anna membungkukkan punggungnya sedikit.&#xA;&#xA;Tidak berlama-lama, Fey dan Papanya pamit pulang. Namun sebelumnya, Fey berbisik pada Anna,&#xA;&#xA;“Hati-hati dengan segala ucapan Hegar, Ann.”&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;@makaroon99]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Merasa ada yang ganjil ketika Fey menghubunginya tadi, Anna dengan cepat langsung menelepon gadis itu balik. Ia ingin memastikan apa yang tadi Fey bicarakan tidak salah.</p>

<p>Cukup lama ia menunggu, akhirnya ia mendapat jawaban dari Fey. Dengan cepat, Anna langsung memesan ojek online untuk pergi ke rumah sakit di mana Fey dan Varo dibawa.</p>



<p>30 menit kemudian, Anna sampai di rumah sakit. Varo masih di dalam UGD, baru selesai diberi penanganan pertama, sementara Fey sudah lebih dulu boleh keluar karena luka yang ia dapat hanya luka kecil akibat jatuh dari motor.</p>

<p>Anna menangis begitu melihat wajah tampan Varo yang sudah tidak nampak. Hidung dan tulang rahangnya terbungkus perban putih, luka di pelipis dan robek di bagian bibir, serta tangan yang di gips. Luka yang didapat Varo cukup parah mengingat 2 orang tadi menghajarnya tanpa ampun.</p>

<p>Sakit sekali hati Anna melihat Varo seperti ini. Rasanya ia ingin marah, tapi tidak tahu harus marah pada siapa. Jika saja pelaku yang menghajar Varo ada di hadapannya sekarang, mungkin sudah ia lempar wajah orang itu dengan pot keramik.</p>

<p>“Anna?”</p>

<p>Gadis itu menoleh ketika seseorang memanggilnya, “Om Jeffan?”</p>

<p>“Gimana Varo?” beliau adalah Ayah Varo.</p>

<p>Anna hanya melirik Varo yang masih belum sadarkan diri, Ayah Varo menepuk-nepuk pundak Anna. Kemudian ia mendekati sang anak dan mengusap lembut kepala Varo. Anna sendiri kemudian pamit keluar untuk menemui Fey.</p>

<p>Perempuan itu masih menangis walau sudah tidak ada lagi air mata yang keluar. Yang dapat Anna lihat, Fey masih terlihat syok. Ia pun duduk di sebelah Fey dan menyentuh pundak temannya itu.</p>

<p>“Fey?” panggilnya pelan.</p>

<p>“Anna, maaf.” Lirih Fey.</p>

<p>“...” Sejujurnya Anna bukanlah orang yang pandai menenangkan seseorang yang menangis.</p>

<p>“Harusnya tadi gue sama Varo langsung pulang, harusnya tadi kami ngga perlu mampir, jadi... jadi Varo ngga celaka.” Isak Fey.</p>

<p>“Lo udah minum?” Anna mengalihkan pembicaraan sejenak.</p>

<p>Fey menggeleng, Anna kemudian beranjak untuk membeli minum yang ada di <em>vending machine</em> di lobby rumah sakit.</p>

<p>Sebelum ia kembali setelah mendapatkan sebotol air mineral, ia membuka ponselnya. Ia bertukar pesan dengan seseorang. Tidak lama, hanya sekitar 2 menit, lalu ia masukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan kembali menemui Fey.</p>

<p>“Minum dulu,” Anna memberikan sebotol air itu pada Fey. Gadis itu pun langsung meminumnya hingga tersisa setengah.</p>

<p>Untuk beberapa saat, keduanya saling terdiam. Tidak ada hal yang ingin Anna tanyakan atau bicarakan, karena fokusnya saat ini hanya Varo yang masih terbaring lemah tak sadarkan diri di dalam.</p>

<p>“Ann?” panggil Fey.</p>

<p>Gadis manis itu menoleh, “Iya?”</p>

<p>“Maaf kalau selama ini gue udah bohong,”</p>

<p>Anna mengeryitkan keningnya sambil menatap Fey yang menunduk.</p>

<p>“S-sebenernya gue sama Hegar ngga pacaran,”</p>

<p>“H-hah?”</p>

<p>“Gue sama Hegar itu sebenarnya saudara satu Ayah.”</p>

<p>“M-maksudnya, kalian adik-kakak?”</p>

<p>Fey mengangguk, “Tapi Hegar ngga pernah mau mengakui itu.”</p>

<p>“...” Anna terdiam, ia berusaha untuk mendengarkan cerita Fey.</p>

<p>“Waktu Mama masih muda, Mama dideketin sama Papanya Hegar, padahal waktu itu posisinya mereka udah sama-sama menikah. Sampai suatu hari, Papa Hegar <em>raped my Mom</em>, Ann.” Fey meremat ujung cardigan yang ia kenakan, lalu kembali menceritakan apa yang ia tahu dari sang Mama.</p>

<p>Tentang Papa Hegar yang tidak mau bertanggung jawab sama sekali, memutus seluruh kontak keduanya yang ada. Tidak hanya itu, Papa Hegar yang merupakan seorang pengusaha juga sempat menjatuhkan perusahaan orangtuanya.</p>

<p>Hal itu juga hampir membuat Mama dan Papa Fey bercerai karena dorongan orangtua yang tidak setuju atas kehamilan Mamanya oleh pria lain. Tapi, Papa Fey yang menyayangi Mama, berusaha mempertahankan pernikahan itu.</p>

<p>“Dan gue ngga tau kalau Hegar ternyata terobsesi sama gue dan dia ngga mau anggap gue saudaranya, dia selalu bilang kalau kami pacaran, maka dari itu terjadilah hubungan toxic ini, Ann. Dan dia ngga izinin gue untuk bilang fakta ini ke siapapun.” Tambah Fey sambil menangis.</p>

<p>Bagaimana reaksi Anna? Tentu sangat terkejut. Mengetahui Fey dan Hegar adik-kakak saja sudah membuat otaknya tidak berfungsi dengan baik, ditambah masa lalu yang dialami Mama Fey.</p>

<p>Namun Anna tidak langsung menelan semuanya mentah-mentah. Sekelibat pernyataan Hegar yang mengatakan bahwa ia dan Fey tidak berpacaran, terlintas di kepalanya. Bahkan belum ada seminggu Hegar mengatakannya.</p>

<p>“Tapi, Fey—”</p>

<p>“Felicia!”</p>

<p>“Papa!!”</p>

<p>Belum sempat Anna bertanya, Papa Fey datang. Fey  pun langsung berlari dan berhambur ke dalam pelukan sang Papa, sementara Anna hanya bisa berdiri dan memperhatikan interaksi sepasang Ayah dan anak itu. Hingga tatapannya bertemu langsung dengan Papa Fey, sontak Anna membungkukkan punggungnya sedikit.</p>

<p>Tidak berlama-lama, Fey dan Papanya pamit pulang. Namun sebelumnya, Fey berbisik pada Anna,</p>

<p>“Hati-hati dengan segala ucapan Hegar, Ann.”</p>

<hr/>

<p>@makaroon99</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://makaroon99.writeas.com/fey-and-her-story</guid>
      <pubDate>Thu, 24 Feb 2022 14:19:26 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>