makaroon99

Mario.

🌼

Sadam sudah tiba lagi di kediaman Papa Jo. Ia memasuki rumah yang kini nampak sepi itu. Tapi mobil Papa Jo masih terparkir di garasi, yang artinya orang rumah ada di dalam.

Dengan langkah santai, Sadam menaiki lantai 2 rumahnya. Kemudian ia berhenti di depan kamar Mario dan membukanya begitu saja.

“Bang?!”

Ia terkejut bukan main ketika melihat Mario yang sedang bertelanjang dada tengah mengobati sesuatu di pinggangnya. Tapi, bukan itu yang membuat Sadam terkejut, melainkan beberapa luka memar di tubuh kakak tirinya itu.

Sementara Mario sendiri terkejut melihat Sadam yang sudah berjalan cepat ke arahnya. Menyentuh pundaknya dan menatapnya tajam.

“Bang, ini apaan? Muka lo, badan lo...ㅡ”

“Gue ngga apa-apa.” Potong Mario.

Seketika Sadam teringat chat Kia tadi, pantas adiknya memintanya pulang dan mengatakan kasihan dengan Mario. Jadi ini alasannya.

“Papa yang mukulin lo?” tanya Sadam setelah membantu mengobati luka di tubuh dan wajah Mario.

“Eung,”

“Sejak kapan?”

”...”

“Bang, jawab gue!”

“Sejak lama, Dam. Bahkan sejak gue kecil, sebelum lo dan Bunda dateng ke rumah ini.”

“H-Hah? T-Tapi kan lo anak kesayanganㅡ”

Mario menatap Sadam tajam, “Ngga ada anak kesayangan, Dam. Asumsi lo selama ini salah.”

”...” Kini gantian Sadam yang terdiam.

“Selama ini gue hidup seperti lo. Diatur, dituntut, dan dipaksa. Bedanya, gue selalu dapat pukulan sementara lo engga.”

Sadam semakin diam tatkala mendengar ucapan Mario yang sedikit bergetar. Hingga akhirnya kakak laki-lakinya itu menceritakan apa yang ia alami.

🌼

Mario Anggara. Mungkin yang Sadam lihat selama ini hidupnya enak, tanpa tuntutan dan paksaan dari sang Papa. Padahal, kenyataannya adalah sebaliknya. Ia sama seperti Sadam.

Sejak kecil, ia diminta untuk menjadi sosok yang sempurna. Bahkan disaat anak-anak usia 3-4 tahun yang masih asyik bermain-main dengan dunianya, Mario sudah harus belajar. Keterlaluan? Memang. Papa Jo ingin anaknya tumbuh jadi sosok yang sempurna terutama dalam akademik.

Hingga dewasa pun, ia masih terus dituntut. Jangan kira ketika sekolah ia jadi anggota OSIS dan di kampus menjadi Presiden Mahasiswa itu keinginannya sendiri, semua paksaan dan tuntutan sang Papa. Seperti yang dilakukan pada Sadam.

Hanya saja, Papa Jo tidak menunjukkan pemaksaan itu di depan Sadam. Pasti selalu di belakang. Entah saat Sadam tidak ada, maupun sudah tidur. Papa Jo akan terus mengecek anaknya hingga tengah malam, bahkan sampai Mario sendiri selesai berkutat dengan buku dan laptop.

Sementara pukulan yang Mario dapatkan sering terjadi karena sang Papa emosi. Entah karena kelakuan Sadam atau dia sendiri. Ia yang menjadi tameng, ia yang menjadikan dirinya sebagai pelampiasan, ia yang merelakan semua pukulan itu menghampirinya. Bukan Sadam atau mungkin Bundanya.

Tidak. Mario tidak akan membiarkan itu terjadi.

“Lo bego, Bang! Kenapa lo ngebiarin Papa mukul lo sementara harusnya gue yang dapetin itu?” Sadam marah dengan mata yang sudah berair.

Mario menggeleng, “Gue ngga bisa, Dam.”

“Kenapa? Kenapa ngga bisa?!”

“Gue ngga mau jadi abang yang gagal lagi! Gue ngga mau adik gue ngerasain tersiksa lagi!” Balas Mario dengan tak kalah emosi.

Sadam mengeryitkan keningnya, “Lagi? Maksudnya?”

Mario terdiam sesaat, menatap langit-langit kamar menahan air matanya agar tidak jatuh.

“Gue juga punya kembaran, Dam.” Ucap Mario.

“Hah?”

“Namanya Mahen. Hidupnya berhenti sampai di usia 9 tahun. Dia sakit… ngga bisa bertahan akibat tekanan dari yang Papa kasih. Gue maupun dia sama-sama ngga berhenti dipukul ketika membuat kesalahan. Tapi dia lebih ngeyel, mirip lo. Makanya Papa lebih sering mukul dia dibanding gue. Tapi, dia jauh lebih lemah dari gue.”

”...”

“Gue merasa bersalah karena saat itu gue ngga bisa bela dia, gue ngga cukup berani. Makanya waktu Papa mau nikahin Bunda dan lo bakal jadi saudara gue, gue takut. Gue dingin bukan karena ngga suka sama lo, gue takut kejadian dulu terulang. Sampai akhirnya gue nego sama Papa, apapun yang terjadi, dia ngga boleh mukul lo. Untuk menebus rasa bersalah gue ke Mahen dulu, gue siap jadi pelampiasan Papa jikalau dia marah sama lo. Gue ngga mau lo kenapa-kenapa karena Papa.”

Tangan Sadam mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih.

“Dan selama ini lo cuma diem diperlakukan kayak gitu? Lo juga ngga marah karena gue menganggap lo anak kesayangan Papa, gue yang ngga tau apa-apa padahal setiap hari lo kesakitan.”

“Lo paham love-language, 'kan? Seperti ini yang bisa gue lakuin buat lo. Lo adik gue yang gue sayang dan yang ingin gue lindungi, begini cara gue, Dam.”

Sadam menghela napas, tepatnya mengatur napas karena sebenarnya saat ini semua emosinya telah bercampur aduk. Marah, sedih, sakit, haru. Semua.

“Mulai sekarang jangan lagi jadiin diri lo sebagai tameng atau pelampiasan cuma buat adik ngga tau diri kayak gue, Bang.” Ucap Sadam.

”...”

“Ayah gue bilang, 'hidup itu ikuti kata hati, bukan kata ego apalagi orang lain'. Mulai sekarang lo harus bisa melawan even itu Papa sendiri. Kalau dia salah, dia kasar, lo berhak dan boleh melawan. Itu bukan berarti lo durhaka. Lo hanya membela diri dari sesuatu yang ngga semestinya. Jangan lagi jadi bonekanya Papa, Bang. Atau hidup lo ngga akan bahagia nantinya.”

Mario tidak langsung menjawab. Ia terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia tersenyum.

“Makasih, Dam. Kia pernah bilang begitu juga, sama persis. Tapi, gue ngga dengerin dia, makanya gue masih kayak gini.”

“Kia tau?”

Laki-laki itu mengangguk, “Sorry.”

“Terserah lah. Intinya, gue mau lo ngga gini lagi. Kalaupun lo nanti kena pukul, gue juga harus kena.”

.

.

.

@makaroon99

Mario.

🌼

Sadam sudah tiba lagi di kediaman Papa Jo. Ia memasuki rumah yang kini nampak sepi itu. Tapi mobil Papa Jo masih terparkir di garasi, yang artinya orang rumah ada di dalam.

Dengan langkah santai, Sadam menaiki lantai 2 rumahnya. Kemudian ia berhenti di depan kamar Mario dan membukanya begitu saja.

“Bang?!”

Ia terkejut bukan main ketika melihat Mario yang sedang bertelanjang dada tengah mengobati sesuatu di pinggangnya. Tapi, bukan itu yang membuat Sadam terkejut, melainkan beberapa luka memar di tubuh kakak tirinya itu.

Sementara Mario sendiri terkejut melihat Sadam yang sudah berjalan cepat ke arahnya. Menyentuh pundaknya dan menatapnya tajam.

“Bang, ini apaan? Muka lo, badan lo...ㅡ”

“Gue ngga apa-apa.” Potong Mario.

Seketika Sadam teringat chat Kia tadi, pantas adiknya memintanya pulang dan mengatakan kasihan dengan Mario. Jadi ini alasannya.

“Papa yang mukulin lo?” tanya Sadam setelah membantu mengobati luka di tubuh dan wajah Mario.

“Eung,”

“Sejak kapan?”

”...”

“Bang, jawab gue!”

“Sejak lama, Dam. Bahkan sejak gue kecil, sebelum lo dan Bunda dateng ke rumah ini.”

“H-Hah? T-Tapi kan lo anak kesayanganㅡ”

Mario menatap Sadam tajam, “Ngga ada anak kesayangan, Dam. Asumsi lo selama ini salah.”

”...” Kini gantian Sadam yang terdiam.

“Selama ini gue hidup seperti lo. Diatur, dituntut, dan dipaksa. Bedanya, gue selalu dapat pukulan sementara lo engga.”

Sadam semakin diam tatkala mendengar ucapan Mario yang sedikit bergetar. Hingga akhirnya kakak laki-lakinya itu menceritakan apa yang ia alami.

🌼

Mario Anggara. Mungkin yang Sadam lihat selama ini hidupnya enak, tanpa tuntutan dan paksaan dari sang Papa. Padahal, kenyataannya adalah sebaliknya. Ia sama seperti Sadam.

Sejak kecil, ia diminta untuk menjadi sosok yang sempurna. Bahkan disaat anak-anak usia 3-4 tahun yang masih asyik bermain-main dengan dunianya, Mario sudah harus belajar. Keterlaluan? Memang. Papa Jo ingin anaknya tumbuh jadi sosok yang sempurna terutama dalam akademik.

Hingga dewasa pun, ia masih terus dituntut. Jangan kira ketika sekolah ia jadi anggota OSIS dan di kampus menjadi Presiden Mahasiswa itu keinginannya sendiri, semua paksaan dan tuntutan sang Papa. Seperti yang dilakukan pada Sadam.

Hanya saja, Papa Jo tidak menunjukkan pemaksaan itu di depan Sadam. Pasti selalu di belakang. Entah saat Sadam tidak ada, maupun sudah tidur. Papa Jo akan terus mengecek anaknya hingga tengah malam, bahkan sampai Mario sendiri selesai berkutat dengan buku dan laptop.

Sementara pukulan yang Mario dapatkan sering terjadi karena sang Papa emosi. Entah karena kelakuan Sadam atau dia sendiri. Ia yang menjadi tameng, ia yang menjadikan dirinya sebagai pelampiasan, ia yang merelakan semua pukulan itu menghampirinya. Bukan Sadam atau mungkin Bundanya.

Tidak. Mario tidak akan membiarkan itu terjadi.

“Lo bego, Bang! Kenapa lo ngebiarin Papa mukul lo sementara harusnya gue yang dapetin itu?” Sadam marah dengan mata yang sudah berair.

Mario menggeleng, “Gue ngga bisa, Dam.”

“Kenapa? Kenapa ngga bisa?!”

“Gue ngga mau jadi abang yang gagal lagi! Gue ngga mau adik gue ngerasain tersiksa lagi!” Balas Mario dengan tak kalah emosi.

Sadam mengeryitkan keningnya, “Lagi? Maksudnya?”

Mario terdiam sesaat, menatap langit-langit kamar menahan air matanya agar tidak jatuh.

“Gue juga punya kembaran, Dam.” Ucap Mario.

“Hah?”

“Namanya Mahen. Hidupnya berhenti sampai di usia 9 tahun. Dia sakit… ngga bisa bertahan akibat tekanan dari yang Papa kasih. Gue maupun dia sama-sama ngga berhenti dipukul ketika membuat kesalahan. Tapi dia lebih ngeyel, mirip lo. Makanya Papa lebih sering mukul dia dibanding gue. Tapi, dia jauh lebih lemah dari gue.”

”...”

“Gue merasa bersalah karena saat itu gue ngga bisa bela dia, gue ngga cukup berani. Makanya waktu Papa mau nikahin Bunda dan lo bakal jadi saudara gue, gue takut. Gue dingin bukan karena ngga suka sama lo, gue takut kejadian dulu terulang. Sampai akhirnya gue nego sama Papa, apapun yang terjadi, dia ngga boleh mukul lo. Untuk menebus rasa bersalah gue ke Mahen dulu, gue siap jadi pelampiasan Papa jikalau dia marah sama lo. Gue ngga mau lo kenapa-kenapa karena Papa.”

Tangan Sadam mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih.

“Dan selama ini lo cuma diem diperlakukan kayak gitu? Lo juga ngga marah karena gue menganggap lo anak kesayangan Papa, gue yang ngga tau apa-apa padahal setiap hari lo kesakitan.”

“Lo paham love-language, 'kan? Seperti ini yang bisa gue lakuin buat lo. Lo adik gue yang gue sayang dan yang ingin gue lindungi, begini cara gue, Dam.”

Sadam menghela napas, tepatnya mengatur napas karena sebenarnya saat ini semua emosinya telah bercampur aduk. Marah, sedih, sakit, haru. Semua.

“Mulai sekarang jangan lagi jadiin diri lo sebagai tameng atau pelampiasan cuma buat adik ngga tau diri kayak gue, Bang.” Ucap Sadam.

”...”

“Ayah gue bilang, 'hidup itu ikuti kata hati, bukan kata ego apalagi orang lain'. Mulai sekarang lo harus bisa melawan even itu Papa sendiri. Kalau dia salah, dia kasar, lo berhak dan boleh melawan. Itu bukan berarti lo durhaka. Lo hanya membela diri dari sesuatu yang ngga semestinya. Jangan lagi jadi bonekanya Papa, Bang. Atau hidup lo ngga akan bahagia nantinya.”

Mario tidak langsung menjawab. Ia terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia tersenyum.

“Makasih, Dam. Kia pernah bilang begitu juga, sama persis. Tapi, gue ngga dengerin dia, makanya gue masih kayak gini.”

“Kia tau?”

Laki-laki itu mengangguk, “Sorry.”

“Terserah lah. Intinya, gue mau lo ngga gini lagi. Kalaupun lo nanti kena pukul, gue juga harus kena.”

.

.

.

@makaroon99

Penjelasan.

🌼

Zidan sudah sampai di rumah Azkia. Kebetulan, Sadam yang sedang di depan, sehingga laki-laki 17 tahun itu harus bertatap wajah dengan kakak dari Kia yang menurutnya jutek itu.

“Mau ngapain lo pagi-pagi?” tanya Sadam.

“Mau ketemu Kak Azkia, mau ada yang saya obrolin, Bang Sadam. Udah bilang Kak Azkia kok tadi mau ke sini.” Jelas Zidan.

Belum Sadam menyahuti ucapan Zidan, Azkia sudah terlihat di ambang pintu, sedikit berlari dan tersenyum pada Zidan.

“Zidan, ayo masuk!” Ajak Kia.

“Eh, ngga usah, Kak. Di sini aja.” Tolak Zidan.

“Tuh duduk di teras. Ya kali lo mau ngobrol sambil berdiri.” Sadam menunjuk kursi yang ada di teras.

“Abang mau sekalian ikut ngobrol ngga?” tanya Kia pelan.

Sadam mengeryit, “Ngapain?”

“Ini tentang Rey.”

Mendengar nama 'Rey', Sadam akhirnya menyetujuinya. Walau semalam ia sudah mendengarkan penjelasan Rey, tapi ia jadi penasaran dengan yang akan diceritakan Zidan.

Mereka bertiga akhirnya duduk bersama di kursi yang ada di teras. Lalu Zidan memulai penjelasannya.

Jadi, Zidan sebenarnya mengenal Rey belum lama ini. Tepatnya sehari setelah ia mengantar Kia pulang, ketika malam itu ia melihat lockscreen pada ponsel Kia.

Mama Zidan adalah seorang Ibu sosialita, yang sangat gemar arisan bersama rekan-rekannya. Dan tidak jarang ia menemani sang Mama. Di sanalah ia mengenal Mama Rey. Yang Zidan tahu, wanita itu sangat suka membanggakan seorang Reynard Aiden si anak kedokteran, sama seperti Mamanya yang sangat senang membanggakan Jemima Tiffany, kakak sulungnya, yang biasa disapa Mima.

Karena hal itu, kedua Ibu itu ingin menjodohkan anak mereka. Dan kebetulan sekali keduanya saling kenal dan cukup dekat karena ada di kelas yang sama. Seingat Zidan, itu terjadi di awal tahun.

Awalnya, Zidan tidak masalah dengan hal itu. Toh kakaknya sudah besar, mau dijodohkan atau tidak, itu bukan urusannya. Lagipula sebenarnya, ia tidak terlalu akrab dengan sang kakak.

Hingga malam di mana ia lihat lockscreen pada ponsel Kia, ia menanyakan pada sang kakak tentang hubungannya dengan Rey. Mima bilang, Rey sudah putus dengan Kia sejak awal kuliah. Sama seperti yang dikatakan Mama Rey selama arisan.

Tapi karena Zidan kurang yakină…ˇkarena Kia bilang sudaj pacaran 2 tahună…ˇ, esok harinya ia menghubungi Mama Rey dan mengkontak laki-laki itu. Dari sanalah ia tahu bahwa Rey dan Mima hanya dekat, tidak berpacaran. Rey yang sangat jelas jika tidak suka dengan orang lain, secara gamblang mengatakan bahwa Mima yang mengejarnya.

Namun belum sempat Zidan melanjutkan ceritanya, Rey dan Ayahnya datang. Dengan wajah tegang, Rey menatap Kia yang matanya merah dan sedikit sembab.

“Kia?” panggil Rey sambil menatap Kia.

“R-Rey?”

Rey melangkah mendekati Kia, kemudian tanpa diduga sebuah pukulan mendarat di pipi kirinya. Sadam pelakunya.

“Sorry, tangan gue gatel, anjir.” Ucap Sadam santai, “Om, maaf, anaknya Sadam pukul.” Katanya pada Tama dan pria itu hanya mengangguk.

Sementara Rey tidak protes atau apapun. Ia terima saja bahkan jika Sadam memukulnya berulang kali. Anggap saja hukuman untuk seorang pengecut untuknya.

“Maaf.” Ucap Rey, “Maafin pacar kamu yang pengecut ini, Kia.”

“Rey…” Kia sudah ingin menangis lagi.

“Daripada lo cuma minta maaf, mendingan langsung jelasin ke Kia deh, Rey.” Ujar Sadam.

Rey melirik sang Ayah, “Iya Ayah masuk deh. Dam, Ayahmu ada di dalam, 'kan?” tanya Tama.

“Ada di dapur Om, lagi bersihin blender tadi.” Jawab Sadam.

Akhirnya Tama masuk, meninggalkan keempat anak muda itu. Sampai akhirnya Rey menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Kia dan Sadam.

Tidak jauh berbeda dengan yang dijelaskan Zidan tadi. Perjodohan, pemaksaan, dan tekanan. Rey merasakan itu lagi walau sudah jauh dari Mamanya.

Mama Rey tidak suka dengan Kia si calon musisi. Ia pikir, akan lebih keren dan hebat jika seorang calon dokter bersama calon dokter juga. Pasangan dokter adalah yang terbaik menurut Mama Rey.

Masalah akun kedua twitter Rey yang dikunci, bukan seperti tuduhan teman-temannya. Rey hanya risih dengan banyak orang yang ingin bermutualan dengannya. Rasanya, ia tidak bebas berkelana di akun tersebut. Serta menghindari sang Mama yang selalu memantaunya.

Selain itu, Rey tidak ingin jika ia memposting foto Kia, teman-temannya di kampus sana tahu. Singkatnya, Rey tidak ingin cantiknya Kia dilihat banyak orang. Biarlah circle-nya saja. Dengan begitu, ia akan jauh lebih bebas.

Dan masalah chat itu, Rey mengaku di jam makan siang itu ponselnya sudah hilang. Bahkan saat sang Ayah sampai di kostnya pun ia tidak tahu. Ia baru tahu malam hari, karena Ayahnya kembali lagi ke kostnya karena khawatir ponselnya tidak bisa dihubungi.

“Demi Tuhan, Kia, sama sekali ngga pernah sedekat itu sama Mima.” Kata Rey, “Cuma aku aja yang pengecut, aku ngga berani tegas ke Mama bahkan ke diriku sendiri.” Tambahnya.

“Padahal kalau kamu cerita, aku ngga masalah.” Respon Kia.

“Iya, maaf. Maaf, pacar kamu terlalu pengecut.”

Sadam menghela napas, “Terus lo sama Zidan ini gimana?”

“Sejak Zidan ngehubungi gue, gue minta tolong sama Zidan untuk jagain Kia. Kebetulan, ternyata Zidan deket sama Kia.”

“Lo bisa minta gue atau yang lain,”

Rey menggeleng, “Ngga tau kenapa gue takut sama kalian, dan Zidan jadi opsi utama gue saat itu.”

“Jadi selama ini Zidan selalu nguatin aku dan ngaskh kata-kata untum ngeyakinin aku tentang LDR sama Rey itu… udah terencana?” tanya Kia.

Zidan mengangguk, “Iya, Kak. Tapi terlepas dari itu, Zidan memang peduli sama Kak Azkia. Zidan mau bantu Kak Rey buat jaga Kak Azkia. Kak Azkia yang lebih bisa menghargai Zidan selayaknya seorang kakak pada adiknya daripada Kak Mima pada Zidan, adik kandungnya sendiri.” Jelasnya.

Kia yang semula tertunduk mendengar penjelasan Zidan, kini menatal Rey, “Jadi… Rey ngga selingkuh, 'kan?”

Rey menggeleng, “Engga, Kia. Aku ngga pernah selingkuh.”

“Terus Mama kamu?”

“Aku tadi udah ketemu Mama, aku udah negasin ke Mama kalau Mama ngga bisa ikut campur urusanku lagi. Mama boleh nyetir aku selama ini, ngatur hidup aku bahkan sampai kuliahku. Tapi satu yang ngga akan bisa dia setir, perasaan aku. Percintaan aku. Aku udah tegasin ke Mama kalau aku cuma mau kamu, Azkia Zanitha.”

Ucapan Rey sungguh membuat Kia tersentuh, sehingga gadis itu kembai menumpahkan air matanya. Dan tanpa malu, Rey menarik kia ke dalam dekapannya.

.

.

.

@makaroon99

Night talk.

🌼

Sadam sudah menyelesaikan acara makannya ditemani Kia. Sang Ayah sedang ada urusan keluar sehingga saat ini tidak berada di rumah. Tapi, mungkin akan pulang larut malam nanti.

Di tengah heningnya suasana meja makan, Sadam menyadari bahwa Kia memperhatikannya. Hal itu membuatnya kembali menatap Kia dan menaikkan alis.

“Kenapa ngeliatin gue gitu? Ganteng, ya, abang lo?” candanya.

Kia tersenyum kecil, lalu mengangguk. Hal itu jelas membuat Sadam tertawa, “Mengakui juga lo akhirnya kalau abang lo ganteng.”

“Terpaksa sih.” Balas Kia.

“Sialan!” Rutuk Sadam, tapi sebenarnya ia tidak serius alias tidak marah. Sudah biasa.

“Abang?” panggil Kia pelan.

“Hm?”

“Selama ini 'kan hidup lo cuma di sekitar keluarga sama temen aja, dan lo ngga punya pacar. Kalau gue boleh tau, apa sih yang bikin lo bahagia selama ini?” tanya Kia.

Sadam terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, “Hmm, lo.”

“Gue?”

“Iya. Ya agak aneh sih. Tapi gue jujur, kebahagiaan gue itu lo.”

Kia mengeryit, “Abang, lo ngga incest, 'kan?”

“Engga lah, gila!”

“Lagian kenapa jawabnya gue coba?”

“Lo tau 'kan dari kecil hidup kita itu udah berat. Berat banget. Tapi kita lewatk bareng-bareng, kita lewati berdua, gandengam tangan, pelukan, pokoknya semua berdua. Kita bener-bener berjuang berdua untuk melengkapi satu sama lain. Dan seharusnya, kita dulu ngga dipisah supaya bisa semakin kuat.” Jelas Sadam.

”...”

“Makanya waktu gue tau lo balik, gue rasanya seneng banget. Bertahun-tahun gue pengen ngejagain lo, tapi gagal karena terpisah oleh jarak.” Sambung Sadam.

Kia tersenyum, “Gue juga seneng waktu bisa ketemu lo lagi setiap hari. Gue ngga ngerasa sepi.”

“That's why lo itu bahagia gue. Liat lo senyum, lo ketawa, rasanya semangat gue tuh kumpul. Makanya gue selalu bilang ke temen-temen yang lain buat memperlakukan lo seperti mereka memperlakukan saudara mereka sendiri. Gue nitipin lo sama mereka karena lo tau, ngga ngga akan dua puluh empat jam bareng sama lo. Sama halnya kayak Rey yang nitipin lo ke kami. Tapi lo masih punya gue, Nopal, Japi, Rhea, bahkan Denara. Dan lo tau ngga sih apa hal yang palimg gue ngga suka?”

“Apa?”

“Kalau lo sedih.” Jawab Sadam, “Dan lo tau hal apa yang paling gue takuti?”

Kia mengangkat satu alisnya, “Uhm?”

“Kalau lo disakiti. Makanya gue selalu bilang, jangan sampai ada orang yang nyakitin lo. Kalau ada orang yang nyakitin lo, gue bakal maju paling depan.”

Gadis itu terdiam sesaat, sambil matanya masih menatap Sadam. “Kalau yang nyakitin gue itu temen lo sendiri, gimana?” tanyanya pelan.

“Siapa?”

“Rey misalnya.”

“Ya gue samperin lah. Gue pukul, gue hajar, kalau perlu mati ditangan gue juga ngga apa-apa.”

“Ish, apasih serem banget bawa-bawa nyawa?” sewot Kia.

Sadam terkekeh, “Ya makanya, jangan sampai. Tapi gue yakin sih, Rey ngga akan ngelakuin itu.”

“Kenapa bisa seyakin itu?”

”...” Kia menggedikkan bahunya.

“Gue yakin, karena gue tau kalau dia sayang banget sama lo. Walau kadang dia cuek, jarang ngabarin lo, tapi hampir tiap hari dia nelpon gue buat nanyain kabar lo.”

“Hah?”

“Iya, setiap hari.”

“Tapi kok dia malah nelpon lo, kenapa ngga ke gue langsung coba?”

“Lo bilang, dia sibuk?”

“Iya, tapi kan daripada nelpon ke lo, lebih baik ke gue langsung ngga sih?”

Lagi-lagi Sadam terkekeh, “Ki, Rey itu bucin banget sama lo. Saking dia sayangnya sama lo, dia ngga mau denger suara lo setiap hari. Dia bilang, dia takut semakin kangen dan bikin fokusnya buyar. Maka dari itu dia nanya ke gue daripada ke lo langsung.

Dan please, jangan negative thinking. Dia bener-bener sesayang itu sama lo, Kia.”

Kia terdiam, “Tapi, Bang… dia udah selingkuh, tanpa lo tau.” ucapnya dalam hati.

.

.

.

@makaroon99

Kacau.

Kia terduduk lemas di sebuah taman tidak jauh dari tempat ia bertemu Mario tadi. Sepi, dan jarang mahasiswa yang lewat. Ia menangis.

Ini adalah pertama kalinya Kia menangisi Rey setelah mereka berpisah waktu di Bandara lebih dari setahun yang lalu. Atau tepatnya, pertama kali ia menangis karena sakit hati.

Ia menunduk dalam, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang ia topangkan pada kedua lututnya. Menangis sesegukkan melepas sesak.

“Kak Azkia?”

Gadis itu tidak menggubris panggilan itu. Ia tetap tertunduk dan menangis. Tidak berniat mengangkat kepalanya sedikitpun.

“Kak Azkia, ini Zidan.”

Masih sama, Kia tidak sedikitpun bergerak. Ia masih terus menangis. Sampai ia merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya, mengusapnya perlahan dan sangat lembut.

“Kak Azkia, tarik napas, yuk? Pelan-pelan biar lega.” Ucap Zidan lagi, “Jangan nangis di sini, apalagi kakak sendirian.”

Kepala Kia perlahan terangkat. Ia mengintip Zidan yang ada di hadapannya, menatapnya dengan raut wajah khawatir.

“Z-Zidan?” gumam Kia.

“Iya, ini Zidan, Kak.”

Kepala Kia semakin terangkat, bibirnya kembali bergetar dan matanya juga mengeluarkan air kembali. Tangis Kia semakin kejar melihat ada orang di depannya.

Zidan bingung, tak tahu apa yang harus ia lakukan jika ada seseorang yang menangis, apalagi perempuan. Selain mengusap pundak, Zidan tidak berani melakukan apa-apa lagi. Hubungan mereka hanya sebatas adik dan kakak tingkat saja.

Sampai akhirnya, seseorang menarik Zidan hingga laki-laki itu terduduk di antara dedaunan kering yang berjatuhan.

“Lo ngapain temen gue, anjir?!” bentak orang itu, “Lo ngapain dia sampai nangis begini??”

Sementara seorang lagi mendekati Kia, “Ki? Lo ngga apa-apa? Lo ngga diapa-apain sama Zidan, 'kan?”

Kia menatap orang yang ada di hadapannya, ia menggeleng, “Nopal… Rey…” kemudian ia kembali menangis kencang.

Guna meredam suara tangis Kia, Naufal menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Ia membiarkan Kia menangis, menumpahkan seluruh air matanya dalam dekapannya itu.

Sementara orang yang menarik Zidan, Javier, menatap pemuda itu tidak suka. Zidan sendiri kemudian berdiri sambil menebah debu di celananya.

“Bang, maaf, saya juga baru datang. Saya ke sini Kak Azkia udah nangis kayak gitu. Demi Tuhan saya ngga tau apa-apa.” Ucap Zidan.

Naufal yang mendengar itu, melirik Javier. Ia menunjuk ponsel Kia yang tergeletak di bawah, lalu Javier mengambilnya dan membukanya. Kebetulan ia tahu pin ponsel Kia, bahkan satu circle nya pun tahu. Tanggal lahir Rey. 2303.

“Brengsek!” Maki Javier tiba-tiba.

Mata Naufal dan Zidan beralih ke arah Javier, lalu laki-laki berkulit sangat putih itu menunjukkan roomchat bersama rey.

“Anjing!” Tidak, Naufal hanya mengumpat dalam hati.

Kemudian ia menjauhkan kepala Kia dari dadanya, ia mengusap air mata gadis itu dan menatapnya.

“Kia, lo tenang dulu, ya?” ucap Naufal.

“Gue ngga pernah putus sama Rey, Nopal. Hiks… g-gue ngga pernah putus.” Ucap Kia.

“Iya, gue tau, Kia.”

“T-Tapi Rey...ㅡ”

“Ini biar gue sama Japi aja yang urus, oke?”

“Jangan bilang sama Abang.”

Naufal menatap Javier, “Iya, kita ngga bakal kasih tau Sadam. Percayain sama kita.” Itu Javier yang menjawab.

“Sekarang cuci muka lo dulu, ya? Lo ditungguin sama Sadam buat makan.” Ujar Naufal.

Kia menggeleng, “Ngga mau ketemu Abang.”

“Tapi dia nungguin lo,“ 

“Terus liat gue abis nangis? Nanti dia marah, Japi.” Kata Kia, kukuh tidak mau bertemu Sadam.

“Ya udah, nanti lo makan di tempat lain aja. Nanti kita bilang ke Sadam kalau lo ngga bisa gabung.” Final Naufal, lalu Kia mengangguk.

“Abang ke Bang Sadam aja, Kak Azkia biar saya yang anter ke toilet.” Usul Zidan dengan sedikit takut.

Javier dan Naufal jelas mengeryit, belum begitu mempercayai Zidan yang memang tidak mereka kenal baik.

“Iya, gue sama Zidan aja. Ngga apa-apa.” Ucap Kia sambil berdiri.

“Serius?” tanya Naufal dan Javier kompak.

Kia kembali menganggukkan kepalanya, kemudian ia mengajak Zidan pergi dari sana. Tidak lupa ia memakai masker yang disimpan di dalam saku jaket  almamaternya, untuk menutupi wajahnya yang bengkak.

Kini tinggal lah Naufal dan Javier, yang sedikit ragu untuk meninggalkan tempat itu sebelum Kia benar-benar masuk ke toilet yang tidak jauh dari sana.

“Kia sama Zidan ngga apa-apa?” tanya Javier khawatir.

“Ngga apa-apa. Lo tau sendiri ceritanya Zidan dari Sadam waktu itu, 'kan?”

Javier menghela napas, “Tapi tetap aja.”

Naufal tidak merespon ucapan Javier. Ia kemudian mulai berjalan menjauhi tempat itu.

“Ini si Rey brengsek juga.” Kata Javier kesal.

”...”

“Pantesan dia bikin akun baru, dikunci pula. Apa biar ngga keliatan ceweknya yang di sana kalau dia punya pacar di sini? Biar bisa bebas selingkuh pasti.” terka Javier.

Naufal melirik, “Jangan mikir aneh-aneh, Jap. Siapa tau Rey ngga selingkuh.”

“Tapi kejadian yang ada, menunjukkan kalau dia selingkuh tuh ada jelas, Fal.”

“Tsk! Lo jangan bikin teori sendiri